Tempatmandi putri bungsu dan enam bidadari lainnya kemudian dikenal dengan telaga Bidadari. Pesan moral dari Dongeng Legenda Indonesia ini adalah jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha dengan cara yang baik dan sah menurut hukum. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang / properti orang lain karena suatu hari kita akan
CeritaRakyat Alue Naga. Zaman dahulu kala seseorang yang bernama Sultan Meurah datang berkunjung ke suatu daerah pedesaan yang lokasinya berada di pinggiran Kuta Raja. Banyak sekali rakyat yang mengeluh karena hewan ternaknya hilang. Bahkan gempa yang membahayakan orang-orang di sekelilingnya seringkali terjadi.
Marikita simak cerita legenda nusantara yang berasal dari provinsi riau, Kisah Legenda Alue Naga, Riau. Pada suatu hari Sultan Meurah mendengar rakyatnya mengeluh karena banyak hewan ternak mereka hilang di Bukit Lamyong. Dan juga, dalam kurun waktu belakangan ini gempa bumi kerap terjadi tanpa ada tanda-tanda dari alam sekitar.
AlueNaga merupakan kawasan yang sering mengundang sensasi dan menarik banyak peneliti untuk datang ke sini. Sebelum tsunami, Alue Naga terkenal karena kisah Pulau Diamat yang sekarang menjadi Dusun Po Diamat. Dusun ini terletak di pesisir ujung Krueng Cut Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Dulunya dusun ini merupakan tempat pengasingan penduduk yang memiliki riwayat penyakit kusta atau lepra sejak tahun 1960.
Sambilmenangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.
Vay Nhanh Fast Money. Legenda Alue Naga Pada suatu hari, Sultan Meurah mendapat kabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat. Beliau kemudian mengunjungi tempat tersebut, yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja. “Tuanku banyak ternak kami hilang saat berada di bukit Lamyong,” keluh seorang peternak. “Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga terjadi longsor dan membahayakan orang yang lewat,” tambah yang lainnya. “Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yang lain. Setibanya di istana, Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. “Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu,” kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair,” sambung Sultan Meurah. “Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali, “Abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya, tambahlah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan. Maka pergilah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara hingga ke kesisi selatan, “bukit yang aneh,” ucap Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yang lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling. “Maafkan hamba putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, “siapa engkau?” Teriaknya. Air yang mengalir semakin banyak dan membasahi kakinya, “hamba naga sahabat ayahmu,” terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh. Renggali terkejut dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku?” Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. “Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Saat sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan. “Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah penasaran. “Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?” tambah Sultan Meurah. Lalu pergilah mereka berdua ke bukit itu, setibanya disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang yang tinggal di dekat bukit itu. “Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali. “Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam. Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut, maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya, kemudian hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya. Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan muncul lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, kemudian hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya. Namun kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi. Raja Linge memiliki kesempatan untuk membunuh hamba, tetapi dia tidak melakukannya sehingga hambalah yang membunuhnya,” cerita naga sambil berurai air mata. “Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar tangis sang naga. “Mengapa engkau terjebak disini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang naga. “Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba,” pinta Naga Hijau. “Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya,” ucap Renggali. “Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah. Maka berjalanlah mereka mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge. Setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. “Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Mohon Naga Hijau. “Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah. Sambil menangis naga tersebut menggerakkan tubuhnya dan pergi menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya sendiri.
0% found this document useful 0 votes9 views3 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes9 views3 pagesAlue Naga MIN 12 BIREUENAULIA FASHBIR KELAS V/6 "Legenda Alue Naga" Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatutempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Rajauntuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya. "Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak. "Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya," tambah yang lainnya. "Sejak kapan kejadian itu?" Tanya Sultan Meurah. "Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat," jelas yang lain. Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. "Daridulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu," kata Sultan Meurah. "Mengapa ada bukitmemanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair," sambung Sultan Meurah."Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam," jelas Renggali, "abanghamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya," tambahnya. "Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!" Perintah berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukittersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, "bukit yang aneh, "bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompatkebawah sambil berguling."Maafkan hamba putra Raja Linge!" Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggalikaget dan segera bersiap-siap, "siapa engkau?" Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itudikuti suara gemuruh. Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. "Engkaukah itu? Lalu di manaayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali."Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!" Isak bukit tersebut. Maka buru-buruRenggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggalimenceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan."Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran."Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?" tambahSultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukititu bergemuruh. "Mengapa Sultan Alam tidak datang?" Suara dari bukit. "Beliau sudah lamamangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkautelah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?" Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu."Hukumlah hamba Sultan Meurah," pinta bukit itu. "Hamba sudah berkhianat, hamba pantasdihukum," lanjutnya. "Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari TuanTapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh RajaLinge," jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, "bagaimana bisakamu membunuh sahabatmu sendiri?" Tanya Renggali."Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepadasahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge danTuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempatTuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke KutaRaja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalanhamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hambamemfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbitlagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, RajaLinge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya makadibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini RajaLinge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatanmembunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya,"cerita naga sambil berurai air mata."Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!" terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkauterjebak disini?" Tanya Sultan Meurah. "Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuhhamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulanRaja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya," jelassang naga."Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba," pinta Naga Hijau. "Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya," kata Sultan Meurah. "Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba,hamba akan membebaskannya," jawab Renggali. "Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba," pinta Naga Hijau. "Kalau begitu bebaskanlah dia!" Perintah Sultan Meurah.
Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar perihal kerisauan rakyatnya di suatu tempat, kemudian ia mengunjungi tempat tersebut yakni sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut unek-unek rakyatnya. “Tuanku banyak ternak kami raib ketika berada di bukit Lamyong,” keluh seorang peternak. “Terkadang bukit itu menimbulkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor & membahayakan orang yg kebetulan lewat dibawahnya,” tambah yg yang lain. “Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yg lain. Sesampai di istana Sultan mengundang sahabatnya Renggali, adik dr Raja Linge Mude. “Dari dahulu gue heran dgn bukit di Lamnyong itu,” kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yg selalu berair,” sambung Sultan Meurah. “Menurut kisah orang renta, bukit itu tiba-tiba timbul pada suatu malam,” terperinci Renggali, “abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu ketika pertama sekali ke Kuta Raja, seperti bukit itu mamanggilnya,” tambahnya. “Cobalah kau-sekalian cari tahu ada apa sesungguhnya dgn bukit itu!” Perintah Sultan. Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, ia menelusuri setiap jengkal & sisi bukit tersebut, mulai dr pinggir bahari di utara sampai ke kesisi selatan, “bukit yg gila, “bisik Renggali dlm hati. Kemudian ia mendaki potongan yg lebih tinggi & bangun di atasnya, tiba-tiba dr belahan di bawah kakinya mengalir air yg hangat. Renggali terkejut & melompat kebawah sambil berguling. “Maafkan hamba putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yg tadi di pinjaknya bersuara. Renggali terkejut & secepatnya bersiap-siap, “siapa engkau?” Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dr bukit itu membasahi kakinya, “hamba naga sobat ayahmu,” terdengar jawaban dr bukit itu dikuti bunyi gemuruh. Renggali sungguh terkejut & di perhatikan dgn seksama bukit itu yg berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar & pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yg mengalir bertambah banyak & menggenangi kaki Renggali. “Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka terburu-buru Renggali pergi dr tempat abnormal tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan peristiwa gila tersebut pada Sultan. “Itukah Naga Hijau yg menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah penasaran. “Mengapa ia ingin menemui ayahku, apakah ia belum tahu Sultan sudah mangkat?” tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa Sultan Alam tak datang?” Suara dr bukit. “Beliau sudah lama mangkat, telah lama sekali, kenapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira kau-sekalian sudah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal akrab bukit itu. “Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba sudah berkhianat, hamba patut dieksekusi,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri & menghabiskan kerbau putih kado dr Tuan Tapa untuk Sultan Alam yg diamanahkan pada kami & hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana mampu ananda membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali. “Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang pada teman-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge & Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau pula berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar & gemuk. Karena ada amanah dr Tuan Tapa maka Raja Linge menetapkan ikut mengirimkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut & hamba menyantapnya, Raja Linge ketakutan & mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau selaku pencurinya, kemudian Raja Linge membunuhnya. Dalam perjalanan dr Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan & terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yg enak itu, kemudian hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya selaku pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri & bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau & menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya kemudian kami bertengkar & laga, Raja Linge memiliki peluang membunuh hamba tetapi ia tak melakukannya sehingga hamba lah yg membunuhnya,” dongeng naga sambil berurai air mata. “Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar isak tangis sang naga. Mengapa kau-sekalian terjebak disini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge menghujamkan pedangnya ke serpihan badan hamba sehingga lumpuhlah badan hamba kemudian terjatuh & menindihnya, suatu pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah & hamba tertimbun di sini bersamanya,” terperinci sang naga. “Hamba mendapatkan kondisi ini, biarlah hamba mati & terkubur bareng sahabat hamba,” pinta Naga Hijau. “Berilah ia hukuman Renggali, kau-sekalian & abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tak mau membunuhnya, terlebih hamba, hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali. “Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dgn tindakan hamba,” pinta Naga Hijau. “Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah. Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi badan naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali mempesona dgn kuat & terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tak mau bergerak. “Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga Hijau. “Sudah cukup hukuman yg ananda terima dr Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah. Sambil menangis naga tersebut memindah tubuhnya & perlahan menuju bahari. Maka terbentuklah suatu alur atau sungai kecil akhir pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari kawasan di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat suatu sungai kecil yg disekitarnya di penuhi rawa-rawa yg selalu tergenang dr air mata penyesalan seekor naga yg sudah mengkhianati sahabatnya. Cerita Lainnnya ==>> Legenda Lutung Kasarung
Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya. "Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak. "Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya," tambah yang lainnya. "Sejak kapan kejadian itu?" Tanya Sultan Meurah. "Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat," jelas yang lain. Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. "Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu," kata Sultan Meurah. "Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair," sambung Sultan Meurah. "Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam," jelas Renggali, "abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya," tambahnya. "Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!" Perintah Sultan. Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, "bukit yang aneh, "bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling. "Maafkan hamba putra Raja Linge!" Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, "siapa engkau?" Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh. Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. "Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. "Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!" Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan. "Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran. "Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?" tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. "Mengapa Sultan Alam tidak datang?" Suara dari bukit. "Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?" Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu. "Hukumlah hamba Sultan Meurah," pinta bukit itu. "Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum," lanjutnya. "Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge," jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, "bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?" Tanya Renggali. "Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk. Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya. Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya," cerita naga sambil berurai air mata. "Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!" terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?" Tanya Sultan Meurah. "Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya," jelas sang naga. "Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba," pinta Naga Hijau. "Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya," kata Sultan Meurah. "Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya," jawab Renggali. "Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba," pinta Naga Hijau. "Kalau begitu bebaskanlah dia!" Perintah Sultan Meurah. Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. "Hukumlah hamba Sultan Meurah!" Pinta Naga Hijau. "Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!" Perintah Sultan Meurah. Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya. Cerita Lainnnya ==>> Legenda Lutung Kasarung
Si Naga Hijau memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia adalah sahabat dari ayahnya. Selama ini Raja Linge hilang, dan ia terakhir kali diketahui bersama dengan Si Naga Hijau. Baca Juga Hak Asuh Gala Sky Jatuh ke Tangan Haji Faisal, Fuji Ungkapkan Rasa Syukur Ketika Renggali bertanya di mana ayahnya, naga meminta Renggali untuk memanggilkan Sultan Alam. Renggali kembali ke istana dan menceritakan kejadian tersebut kepada Sultan Meurah. Sultan Merah pun setuju menemui naga di bukit Lamyong. Sesampainya di sana si naga menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa ia telah membunuh Raja Linge dan jasad sang raja ada di bawah tubuhnya. Baca Juga Nomor Telepon dan Link Website Posko THR Virtual 2022, Bisa untuk Pengaduan Saat itu naga tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ada pedang Raja Linge yang terhunus di tubuhnya. Renggali tidak mau menghukum Naga Hijau. Ia lalu menarik pedang yang terhunus di tubuh naga dan meminta sang naga kembali ke kampung halamannya. Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya dipenuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya. Pada bukit’ bekas tubuh naga terbentuknya sebuah sungai kecil yang dipenuhi rawa-rawa dengan genangan air. Kemudian Sultan Meurah memberi nama wilayah tersebut Alue Naga.*** Terkini
cerita rakyat alue naga