PenetapanLevel 1 PPKM di seluruh Indonesia tersebut berlaku 2-15 Agustus 2022 untuk wilayah Jawa dan Bali. Sementara PPKM level 1 berlaku 2 Agustus hingga 5 September 2022 untuk wilayah Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Lantas, seperti apa aturan kegiatan masyarakat pada PPKM Level 1?
Silahkan lanjut membaca artikel ini yang berkisahkan cerita rakyat dari Lombok. Jika ingin mengetahui lebih banyak lagi, lanjut membaca tentang pulau Lombok. Sampai sekarang dan hingga saat ini Pulau ini teteap menjadi populer oleh wisatawan dimana di pulau Lombok ini terdapat gunung terbesar ke 3 di Indonesia yakni Gunung Rinjani (Montain
CeritaRakyat Sulawesi Tengah. Pemuka bulili pun mengirim makeku dan bantaili untuk menemui ayah dari anak tersebut. 6 juni 2018 dongeng cerita rakyat. Kumpulan Cerita Rakyat Sulawesi Tengah from hari ini 1.885 kemarin 2. Artikel kali ini menampilkan cerita. Oleh karena orangtuanya tidak mampu lagi menghidupinya, sesentola pun pergi dari kampungnya. Source: www.youtube.com
Seluruhkeluarga dari dua Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan itu sangat gembira dengan pernikahan tersebut. Putri Tandampalik dan Putra Mahkota hidup bahagia. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Ia menjadi raja yang arif dan bijaksana. Maka semakin bertambahlah kebahagiaan mereka. disadur dari : Effendy, Tennas. 2006.
Rukun dan damai biasanya ditandai dengan saling mengunjungi antara satu dengan yang lain dengan pengantara melalui akar balang. Namun pada suatu ketika, di Bumi hiduplah seorang Manusia yang perangainya sangat buruk. Ia suka sekali melakukan hal-hal yang jahat. Karena pikirannya jahat, ia dinamakan penjahat.
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Ada cerita rakyat yang mengisahkan tentang kera dan ayam? Tentu saja, kamu bisa menyimak dongeng lengkap mengenai kisah dari Sulawesi Tenggara tersebut melalui artikel yang kami rangkum di bawah ini. Baca sampai selesai dan renungkan pesan moral di dalamnya, tanah air, banyak fabel yang diambil dari cerita rakyat di nusantara, salah satunya berasal dari Sulawesi Tenggara. Melalui artikel ini, kami menguraikan cerita rakyat Sulawesi Tenggara mengenai dongeng persahabatan kera dan yang menceritakan kedua hewan tersebut mengandung sejumlah pesan moral yang perlu kamu pelajari. Bila perlu, kamu dapat pula mengajarkannya kepada anak, keponakan, atau murid-muridmu jika kamu seorang seperti apa kisah singkat mengenai cerita rakyat kera dan ayam yang berasal dari Sulawesi Tenggara? Kalau kamu sudah penasaran dengan dongeng yang satu ini, langsung saja simak keterangan yang kami paparkan sebagai berikut! Sumber YouTube – TH72 Channel Alkisah pada zaman dahulu, hiduplah seekor kera dan ayam yang saling bersahabat. Keduanya tidak pernah berkelahi dan selalu terlihat rukun. Akan tetapi, rupanya hubungan persahabatan yang akur itu tidak bertahan lama. Semua berubah di suatu sore ketika kera dan ayam pergi berjalan-jalan. Keralah yang pertama kali mengajak ayam untuk pergi sore itu. “Ayam, sahabatku, maukah kau pergi bersamaku sore ini? Sore-sore begini tentu asyik kalau kita pergi berjalan-jalan sebentar,” tutur kera. Tanpa berpikir panjang, ayam langsung menyetujui ide kawan karibnya itu. Ia bahkan menganggap ide kera sangat bagus karena ia sendiri juga sedang penat. “Kau mau mengajakku ke mana?” Tanya ayam. “Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke hutan. Di sana ada tempat yang punya pemandangan indah, tempatku biasa bermain dan mencari makan. Ada juga sungai yang airnya sangat jernih. Kau pasti suka,” si kera menerangkan. Baca juga Cerita Mukjizat Nabi Idris As, Mulai dari Soal Kuda hingga Surga dan Neraka Niat Buruk Kera Sepanjang Perjalanan Kera dan ayam pun berjalan ke hutan. Mereka semakin masuk jauh ke dalam hutan sampai tak terasa matahari sudah hampir tenggelam. Di saat seperti itu, ayam gelisah karena ia tidak dapat melihat dengan jelas begitu malam tiba. “Bagaimana kalau kita pulang saja? Sebentar lagi gelap,” pinta ayam. “Kau benar, ayo kita kembali. Tapi sebelum itu, kita mencari makanan dulu untuk dimakan setelah sampai di rumah,” ujar kera membujuk. Ayam mengiyakan. Mereka juga sudah berjalan kembali untuk keluar dari hutan. Akan tetapi di tengah perjalanan, selagi menahan lapar, di pikiran si kera terbersit niat untuk mencelakakan ayam. Daripada kelaparan dan tak juga menemukan makanan, ia berniat untuk memangsa ayam sahabatnya. “Sepertinya aku tak perlu repot lagi mencari makan. Di depanku sudah ada mangsa lezat yang terlihat empuk dagingnya. Sebelum kumakan, aku akan terlebih dulu mencabuti bulunya. Ah, nikmat sekali,” batin kera. Tak lama setelah membatin demikian, kera langsung menerkam ayam. Ayam yang panik tidak bisa melakukan apa pun. Ia semakin meronta begitu kera mulai mencabut satu persatu bulu dari tubuhnya. Ayam berteriak-teriak dan tetap meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kera. Setelah berhasil lepas, ia lari tunggang langgang keluar dari hutan yang sudah semakin gelap. Sampai-sampai, ia tak peduli ke arah mana selama bisa sembunyi sementara dari sahabatnya itu. Baca juga Cerita Abu Nawas Mencari Cincin dan Ulasannya, Kisah Menggelikan yang Mengandung Pesan Bijak Pertolongan dari Seekor Kepiting Jauh sudah unggas yang satu itu berlari. Tak disangka, ia sampai di dekat tempat tinggal kawannya yang lain, yaitu kepiting. Di sana, ayam terengah-engah hingga suaranya membuat kepiting keluar dari persembunyian sebelum dipanggil. Kepiting terperangah melihat ayam dalam kondisi yang mengenaskan. Ia menahan diri dan membawa ayam masuk sebelum bertanya, “Sahabatku, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau ketakutan dan bulu-bulumu rontok?” “Kera mencelakaiku. Sahabatku sendiri yang kupercaya selama ini hendak memakanku hidup-hidup,” jawab si ayam yang masih panik dan ketakutan. “Keterlaluan! Bagaimana monyet itu bisa berbuat tega kepadamu? Aku tidak bisa membiarkannya. Kita harus memberinya pelajaran!” Amuk kepiting. Setelah ayam merasa tenang, keduanya pun mulai mengatur siasat untuk membalas perbuatan kera. Beberapa hari kemudian, mereka bersama-sama menemui kera dan menjalankan rencana yang telah disusun. Pembalasan Pahit untuk Si Kera Pagi itu, kepiting dan ayam mendatangi kera di rumahnya. Namun, karena ayam masih takut jika harus bertatap muka dengan kera, kepiting yang terlebih dulu membuka suara. “Hai, kera. Aku dan ayam ingin berpamitan,” katanya. “Dua hari dari sekarang, kami akan berlayar ke pulau seberang. Kudengar di sana banyak buah-buahan lezat. Kurasa di sana akan lebih nyaman untuk menyambung hidup,” tuturnya lagi. “Benarkah? Kalau begitu izinkan aku pergi berlayar bersama kalian,” kera bersemangat. Mengingat hal itu merupakan bagian dari rencana, kepiting setuju mengajak serta si kera. Mereka pun bertemu di hari yang sudah ditentukan di tepi pantai di mana sudah tersedia perahu dari tanah liat di sana. Tak lama, ketiganya naik ke atas perahu dan perahu semakin menjauh dari tepian. Bersamaan dengan itu, kera sudah membayangkan bagaimana ia menyantap semua buah lezat yang ada di seberang. Sedangkan di sisi lain, ayam mulai mematuk-matuk dasar perahu untuk melubanginya. Beruntung kera tidak menyadarinya karena ayam dan kepiting melakukannya selagi berpantun ria. Perlahan tapi pasti, lubang di dasar perahu semakin besar dan air laut masuk ke dalamnya. Perahu pun lama-lama tenggelam. Di saat seperti itu, kepiting menyelam ke dalam air lantaran ia pandai berenang. Si ayam pun terbang, mencari daratan terdekat yang bisa dijangkaunya. Sementara si kera kebingungan karena ia tidak dapat berenang. Ia hanya meronta minta tolong sampai seluruh tubuhnya ditelan lautan. Baca juga Cerita Nabi Daud As dan Kitab Zabur yang Diterimanya sebagai Wahyu Unsur Intrinsik Dongeng Kera dan Ayam Sumber YouTube – 3dynda Channel 1. Tema Tema yang terdapat dalam cerita rakyat kera dan ayam di atas adalah tentang persahabatan yang ternodai karena pengkhianatan. Hal ini terlihat dari sikap kera yang di dalam kisah tersebut tiba-tiba berniat memangsa ayam dan menyerangnya saat lengah. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dan satu karakter pembantu yang disebutkan di dalam fabel di atas. Pertama, yaitu ayam yang dikisahkan sebagai sosok penakut, tampak dari hari di mana ia kembali menemui kera bersama kepiting. Kedua, yakni kera yang lincah dan rakus. Saking rakusnya, tokoh antagonis itu sampai menyerang sahabatnya sendiri dan berusaha memakannya hanya karena lapar dan tidak menemukan makanan apa pun di dalam hutan. Terakhir, ada tokoh pembantu yaitu kepiting. Kepiting suka menolong, tetapi menggunakan cara licik untuk membantu ayam. Ini ditunjukkan dalam kisah di mana ia mengatur siasat untuk mencelakakan kera. 3. Latar Latar dongeng kera dan ayam dalam cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara itu ada lebih dari satu. Di antaranya adalah hutan yang dituju oleh ayam dan kera, tempat tinggal kepiting, dan pantai di mana ketiga tokoh bersama-sama. 4. Alur Untuk alur sendiri, kisah yang satu ini menggunakan alur maju. Tidak ada kilas balik, dan ceritanya juga runtut, yaitu dimulai ketika ayam dan kera masih bersahabat hingga bermusuhan dan saling membalas dendam. 5. Pesan Moral Kamu bisa mendapatkan pesan moral penting tentang cara menjaga persahabatan setelah membaca fabel di atas. Bahwasanya, tidak dibenarkan jika seseorang mengkhianati sahabatnya sendiri, terlebih kalau sekadar untuk keuntungannya semata. Pesan penting lain yang juga tersirat di dalam cerita tersebut, yaitu agar kita tidak main hakim sendiri. Memang sakit rasanya dikhianati, tetapi akan salah pula kalau kita membalas dendam dengan balas menyakitinya. Baca juga Simak Kisah Dongeng Klasik Cinderella dan Sepatu Kaca Beserta Ulasan Menariknya di Sini, Yuk! Fakta Menarik di Balik Dongeng Kera dan Ayam 1. Versi yang Berbeda Beredar dan Dikenal Jika membaca cerita rakyat kera dan ayam yang sudah kami paparkan, kamu mungkin sudah bisa menebak versi lain dongeng di atas yang bisa dibilang dikenal pula oleh banyak orang. Bahwasanya, ada versi kisah serupa yang memiliki judul berbeda di mana karakter kepiting juga disebutkan dalam judul. Lebih lanjut, versi itu memuat kisah yang kurang lebih sama. Kisahnya juga sudah banyak dibukukan oleh sejumlah penerbit buku anak lokal maupun nasional, serta diceritakan kembali secara lisan di situs berbagi video seperti YouTube. Baca juga Dongeng Ali Baba dan 40 Pencuri Beserta Ulasan Lengkapnya, Pelajaran tentang Ketamakan Dongeng tentang Kera dan Ayam di Atas Keren, Bukan? Kamu yang suka dengan dongeng pendek, cerita rakyat yang membahas tentang kera dan ayam ini tentu menarik buat kamu simak dan bagikan. Apalagi, kisahnya mudah dicerna dan dapat diceritakan kembali kepada anak-anak. Maka dari itu, jangan ragu untuk membaca artikel-artikel kami lainnya seputar dongeng dan fabel dari dalam maupun luar negeri. Di sini, kamu punya koleksi kisah Putri Salju, Roro Jonggrang, Abu Nawas, dan masih banyak lagi. PenulisArintha AyuArintha Ayu Widyaningrum adalah alumni Sastra Indonesia UNS sekaligus seorang penulis artikel nonfiksi yang juga punya banyak jam terbang menulis fiksi, seperti cerpen dan puisi. Terkadang terobsesi menulis skrip untuk film atau sinema televisi. Punya hobi jalan-jalan di dalam maupun luar negeri.
Tidak banyak cerita rakyat dari Maluku yang Kakak miliki, hanya beberapa kisah dari sekian banyak koleksi cerita rakyat Nusantara di blog ini berasal dari Maluku. Salah satu dongeng yang berasal dari Maluku adalah cerita Air Mata Menjadi Telaga yang merupakan asal muasal Telaga Biru di Dusun Lisawa. Karena cerita rakyat ini sangat pendek Kakak tambahkan satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara yaitu kisah balas dendam penjaga gunung, mudah-mudahan kalian suka dengan kedua dongeng anak ini. Selamat membaca. Cerita Rakyat dari Maluku Legenda Air Mata Menjadi Telaga Dahulu kala, ada sepasang muda-mudi bernama Majojaru dan Magohiduru yang sedang menjalin kasih. Suatu hari, Magohiduuru berpamitan kepada orangtua dan kekasihnya untuk pergi merantau. Sebelum pergi, Majojaru dan Magohiduuru mengikat janji untuk sehidup semati selamanya. Sekian bulan berlalu, terdengar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Magohiduuru tenggelam di laut luas dan pemuda itu meninggal dunia. Kabar ini membuat hati Majojaru hancur. Dengan perasaan yang sangat sedih, gadis itu pergi dari rumah untuk menangkan diri. Lalu, ia berhenti di bawah sebuah pohon beringin dan duduk menangis di satu. Air matanya mengalir deras, sehingga menggenang dan menenggelamkan batu-batuan tajam yang ada di sekitar pohon beringin. Gadis itu pun tenggelam oleh air matanya sendiri. Akibatnya, terjadilah sebuah telaga. Airnya sangat bening dan indah. Penduduk menamakan telaga tersebut Telaga Biru. Pemuda dan pernudi di sana sering kali datang ke Telaga Biru untuk saling mengikat janji. Telaga Biru terletak di Dusun Lisawa, Maluku. Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Maluku Asal Usul Telaga Biru adalah dalam menghadapi segala masalah, kita harus tegar dan tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Dongeng Anak dari Sulawesi Tenggara Asal Usul Gunung Saba Mpolulu Di Sulawesi Tenggara terdapat dua buah gunung yang letaknya saling berjauhan. Nama gunung tersebut adalah Gunung Kamonsope dan Gunung Mata Air. Penunggu Gunung Kamonsope adalah seorang perempuan yang cantik. Sementara itu, penunggu Gunung Mata Air adalah seorang laki-laki bertubuh gendut. cerita rakyat dari maluku dan Dongeng Anak Sulawesi Tenggara Suatu saat, kemarau melanda daerah ini. Di mana-mana terjadi kekeringan. Namun, wilayah Gunung Kamonsope memiliki persediaan air yang sangat banyak, sehingga tidak mengalami kekeringan. Pengairan sawah tetap terjaga baik dan kebutuhan masyarakat juga terpenuhi. Berbeda dengan Gunung Mata Air. Meskipun namanya Mata Air, wilayah ini mengalami kekeringan yang sangat parah. Untuk memenuhi kebutuhan mandi penduduk saja sulit. Hal ini membuat penunggu Gunung Mata Air gundah. Lalu, ia berniat untuk meminta pertolongan kepada penunggu Gunung Kamonsope. Ia mendatangi penunggu Gunung Kamonsope. “Bisakah aku meminta airmu untuk mengairi wilayahku?” kata penunggu Gunung Mata Air dengan santun. “Maaf, aku tidak bisa menolongmu. Aku juga memeriukan air untuk wilayahku;” kata penunggu Gunung Kamonsope. Penunggu Gunung Mata Air merasa kecewa. Berkali-kali, ia mengulangi permohonannya, tetapi tetap saja tidak dikabulkan oleh penunggu Gunung Makonsope. Laki-laki itu pulang dengan perasaan marah. Ia merasa dilecehkan oleh perempuan penunggu Gunung Kamonsope. Laki-laki itu pun berniat menyerang Gunung Kamonsope menggunakan meriam. Tembakan pertama meleset, begitu juga tembakan kedua dan tembakan ketiga. Sama sekali tidak mengenai Gunung Kamonsope. Menyadari wilayahnya diserang, penunggu Gunung Kamonsope berniat membalasnya menggunakan meriam yang lebih besar. Sekali tembak saja meriam tersebut sudah mengenai puncak Gunung Mata Air sehingga pecah menjadi berbentuk kapak. Semenjak saat itu, Gunung Mata Air diganti namanya menjadi Saba Mpolulu. Saba artinya terkoyak, hilang sebagian. Sementara itu, Mpolulu artinya kapak. Pesan moral dari Dongeng Anak dari Sulawesi Tenggara Asal Usul Gunung Saba Mpolulu adalah selesaikan masalahmu dengan musyawarah, menyelesaikan masalah dnegan kekerasan bisa berakibat kehancuran. Ikuti kisah cerita rakyat terbaik lainnya yang kami miliki pada artikel kami berikut ini Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi
Indonesia kaya akan dongeng yang berhubungan dengan bidadari yang turun ke bumi. Namun, pernahkah kamu mendengar cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara? Kalau belum, langsung saja simak ulasan yang telah kami siapkan di artikel berikut!Kamu mungkin sering mendengar dongeng Indonesia yang menceritakan tentang bidadari yang turun ke bumi. Namun, pernahkah kamu mendengar cerita rakyat Sulawesi Tenggara tentang Putri Satarina dan Tujuh Bidadari?Kisahnya menceritakan tentang kebaikan seorang gadis yang nasibnya selalu sial. Karena merasa kasihan, akhirnya para batari itu pun menolong gadis bernama Putri Satarina itu dan mengangkatnya menjadi bidadari penasaran dengan kisahnya, langsung saja simak ulasan seputar cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang telah kami siapkan di bawah ini. Selain kisahnya, kamu juga bisa mendapatkan ulasan terkait unsur intrinsik dan beberapa fakta menariknya. Selamat membaca! Sumber Wikimedia Commons Alkisah di bagian tenggara pulau Sulawesi, terdapatlah sebuah negeri yang dihuni oleh orang-orang suku Wolio. Negeri tersebut berbentuk pedukuhan atau desa yang dikenal juga dengan nama Desa Keli. Desa tersebut dilalui sebuah aliran sungai bernama Lakambolo. Setiap kali musim timur tiba, air sungai tersebut akan meluap dan menenggelamkan seisi kampung. Hal itu terpaksa membuat warga yang tinggal di Desa Keli harus mengungsi dari ancaman banjir ke daerah yang lebih aman setiap kali musim timur tiba. Di desa tersebut, tinggal seorang saudagar kaya raya bernama La Ode Pakainke Ke. Ia memiliki seorang istri yang rupawan dan cantik jelita bernama Wa Ode Sanggula. Kehidupan sang saudagar itu benar-benar dilimpahi kebahagiaan. Usaha dagang yang mereka jalankan selalu mendapatkan keuntungan dan laba yang banyak. Ditambah lagi, mereka tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka yang telah dinanti-nanti. Pada satu senja, La Ode Pakainke Ke dan istrinya, Wa Ode Sanggula tengah duduk bercengkerama di teras depan rumahnya yang besar dan megah. “Istriku, minggu depan aku harus berangkat ke Pulau Siumpu untuk membawa bawang dagangan. Sudah satu bulan aku beristirahat di rumah, kini saatnya aku harus berdagang lagi,” ucap La Ode Pakainke Ke dengan bersedih. Wa Ode Sanggula tak menjawab ucapan suaminya itu. Ia hanya menundukkan kepala seraya tangannya sesekali mengusap perutnya yang membuncit. Terkadang, ada hela napas yang berat di antara setiap tarikan napasnya. “Janganlah engkau bersedih, istriku! Perjalananku kali ini tak akan lama. Paling lama akan memakan waktu dua minggu saja. Nantinya setelah urusanku selesai, aku berjanji akan langsung pulang,” lanjut La Ode Pakainke Ke berusaha meyakinkan sang istri. Meskipun begitu, tetap saja Wa Ode Sanggula terdiam menunduk penuh kesedihan. Ia masih saja merasa berat melepaskan kepergian suaminya. Kekhawatiran Wa Ode Sanggula “Kumohon bicaralah padaku, istriku. Jangan hanya diam saja. Apa gerangan yang membuat hatimu merasa berat? Jangan membuatku merasa cemas karena sikapmu itu!” ujar La Ode Pakainke Ke khawatir. “Maafkan aku, suamiku. Bukan maksudku membuatmu khawatir. Aku hanya bersedih memikirkan rencana keberangkatanmu minggu depan, padahal tak lama lagi aku akan melahirkan bayi kita. Aku takut kalau kau tak bisa berada di sisiku ketika melahirkan nantinya. Siapa nantinya yang akan menolongku?” ucap Wa Ode Sanggula seraya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Mendengar hal itu, La Ode Pakainke Ke menjadi terdiam dan bimbang. Tentu saja ia tak ingin meninggalkan istrinya sendiri ketika tengah melahirkan, tapi bagaimanapun juga ia harus kembali berdagang di Pulau Siumpu. “Berapa usia kandunganmu sekarang, istriku?” tanya La Ode Pakainke Ke. “Delapan bulan dua belas hari, suamiku,” jawab sang istri. La Ode Pakainke Ke kemudian terdiam dan berpikir keras. “Kalau begitu, aku masih bisa memiliki waktu untuk berdagang seraya menunggu kelahiran bayi kita. Menurut perhitunganku, bayi kita seditaknya akan lahir tiga puluh delapan hari lagi. Nantinya sebelum kau melahirkan, aku pasti sudah kembali pulang lagi,” ucapnya kemudian. “Jadi kau akan tetap berangkat berdagang, suamiku?” “Benar, istriku. Aku sudah terlanjut berjanji pada saudagar di Biwinapa untuk membawakan barang dagangan yang sudah dia pesan. Aku harus memenuhi janji itu agar di kemudian hari perniagakanku tidak mengalami kesulitan karena kehilangan kepercayaan dari orang lain. Kuharap kau bisa memaklumiku, istriku. Lagi pula apa yang aku lakukan ini juga demi anak kita kelak!” ucap La Ode Pakainke Ke berusaha membesarkan hati istrinya. Baca juga Asal Mula Gunung Mekongga di Sulawesi Tenggara & Ulasan Menariknya, Tempat Terbunuhnya Burung Garuda Raksasa Keberangkatan La Ode Pakainke Ke Setelah terdiam beberapa saat, Wa Ode Sanggula lalu memandang suaminya dan berucap, “Baiklah, suamiku. Aku akan melepaskan kepergianmu dengan ikhlas. Aku juga akan selalu mendoakan agar kau berada dalam lindunagan Yang Maha Kuasa.” “Terima kasih, istriku. Sekarang aku lebih lega dan tak lagi merasa berat untuk berangkat minggu depan,” ucap La Ode Pakainke Ke seraya memeluk istrinya penuh cinta. Satu minggu kemudian, seperti rencananya semula, La Ode Pakainke Ke berangkat bersama awak kapalnya menumpangi kapal besar miliknya. Mereka berlayar menuju Pulau Siumpu dengan membawa barang dagangan berupa kain sutera dan kerajinan tangan hasil penduduk Desa Keli. Setelah beberapa minggu, La Ode Pakainke Ke masih saja belum pulang ke rumah. Hal itu tentu saja membuat Wa Ode Sanggula khawtir. Padahal waktu kelahirannya sudah di depan mata. Suatu hari, ketika matahari akan terbenam, Wa Ode Sanggula masih asyik duduk di serambi depan rumahnya seraya mengusap perutnya yang semakin buncit. Sesekali, pandangan matanya diarahkan ke belokan di ujung jalan bagian selatan rumah mereka. Tak lama kemudian, pengasuhnya yang benama Wa Kalambe keluar dari dalam rumah dan mendekatinya perlahan. “Ini sudah nyaris maghrib, Abe. Marilah kita masuk ke dalam rumah. Orang hamil sepertimu seharusnya tak boleh berlama-lama duduk di luar rumah. Namanya pamali,” ucap Wa Kalambe. “Tapi, aku masih menunggu kedatangan suamiku sore ini, Wa Mbe,” ucap Wa Ode Sanggula bersedih. “Aku tahu, Abe. Tapi hari kini sudah semakin gelap. Mungkin saja Nak Ode belum pulang sore ini. Sebaiknya kau masuk dahulu dan menunggu besok lagi untuk menantikan kepulangannya,” ujar Wa Kalambe kemudian. La Ode Pakainke Ke yang Tak Segera Pulang “Namun ini sudah lewat satu minggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Wa Mbe. Dan suamiku masih belum pulang juga. Aku jadi merasa sangat cemas karena memikirkannya. Kira-kira apakah gerangan penyebab keterlambatannya?” Wa Ode Sanggula masih saja belum bergerak dari tempat duduknya. “Mungkin saja urusan Nak Ode tak bisa diselesaikan dengan cepat sehingga kepulangannya terpaksa harus ditunda. Jangan terlalu berpikiran buruk. Lebih baik kita masuk ke dalam!” ucap Wa Kalambe terus membujuk. Meskipun awalnya Wa Ode Sanggula berkeras tak ingin masuk ke dalam rumah sampai suaminya pulang, tapi pada akhirnya ia pun berdiri dari tempat duduknya. Seraya memegang pinggulnya yang pegal akibat duduk terlalu lama, ia pun berjalan masuk ke dalam rumah dengan didampingi oleh Wa Kalambe. Ketika malam semakin larut, suasana rumah pun menjadi semakin sunyi. Lampu rumah tersebut sudah dimatikan semua oleh Wa Kalambe, kecuali lampu dari kamar Wa Ode Sanggula. Hal itu menunjukkan bahwa penghuni kamar itu masih terjaga. Dan benar saja, di atas pembaringan empuk yang dilapisi kain beludru berwarna merah, Wa Ode Sanggula masih saja belum tidur. Ia hanya mengubah-ubah posisi tidur saja seperti tengah merisaukan sesuatu. Ada banyak dugaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. “Suamiku, apa yang sebenarnya tengah terjadi padamu? Kenapa kau masih belum pulang juga hingga sekarang?” bisiknya nyaris menangis. “Tuhan, kumohon lindungilah suamiku. Berikanlah ia kekuatan agar bisa kembali dengan selamat,” ucapnya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Setelah menangis dan khawatir semalaman, Wa Ode Sanggula baru bisa terlelap ketika menjelang dini hari. Baca juga Dongeng La Sirimbone dari Sulawesi Tenggara dan Ulasannya, Lika Liku Kehidupan Anak yang Ditinggalkan Keluarga Pecah Ketuban Wa Ode Sanggula Ketika hari sudah menjelang siang, Wa Kalambe mengetuk pintu kamar yang membangunkan Wa Ode Sanggula dari mimpinya. “Abe Sanggula! Hari sudah siang, bangunlah!” ucap Wa Kalambe di antara ketukannya di pintu dengan nada khawatir, “Apakah Abe baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa, Wa Mbe. Masuklah, aku sudah bangun,” jawab Wa Ode Sanggula masih dengan nada lemas. Setelah Wa Kalambe masuk, wajahnya semakin terlihat khawatir ketika melihat Wa Ode Sanggula masih terbaring di tempat tidur. “Apakah kamu sakit, Abe?” tanya Wa Kalambe cemas seraya berjalan mendekati pembaringan. Ia pun langsung memegang kening Wa Ode Sanggula untuk mengecek kondisinya. “Aku hanya merasa sedikit pusing, Wa Mbe. Semalam aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku masih memikirkan kepergian suamiku yang belum ada kabarnya hingga sekarang.” “Sekarang Abe tak perlu lagi merasa cemas. Tadi pagi kusir La Ponta-Ponta datang untuk memberi kabar kalau kapal Nak Ode sudah berlabuh. Sebentar lagi suamimu pasti akan pulang ke rumah.” Mendengar hal itu, Wa Ode Sanggula pun langsung terlihat sumringah dan bersemangat. Tanpa menunggu lama ia langsung bangun dari pembaringannya. Namun, karena ia terlalu tergesa-gesa, tanpa sadar kaki kirinya tersangkut ujung kain hingga ia terguling dari tempat tidur. Wa Kalambe yang tak menduga kejadian itu pun langsung panik. Kejadian itu langsung membuat air ketuban Wa Ode Sanggula pecah. Pertanda bahwa tak lama lagi ia akan melahirkan bayinya. Hal itu tentu saja membuat Wa Kalambe menjadi semakin panik. Kelahiran Putri Satarina Di waktu yang bersamaan, terdengar suara salam dari depan pintu yang menunjukkan bahwa La Ode Pakainke Ke telah pulang ke rumah. Ketika melihat kondisi istrinya yang kesakitan, pria tu langsung ikut panik dan menanyakan apa yang bisa ia bantu. Tanpa menunggu lama, Wa Kalambe menyarankan La Ode Pakainke Ke untuk bergegas keluar kamar dan menyuruh pengurus kuda untuk menjemput dukun beranak. Untungnya, dukun beranak itu bisa dipanggil dengan cepat dan Wa Ode Sanggula bisa melahirkan bayi perempuannya dengan selamat. Bayi perempuan yang berparas cantik jelita dan berkulit putih bagai salju nan elok itu pun diberi nama Putri Satarina yang berarti anak perempuan yang berwajah bagai purnama. Kehadiran sang putri tentunya membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Apalagi usaha perniagaan La Ode Pakainke Ke menjadi sembakin lancar. Namun sayang, ketika usia sang putri baru tiga belas bulan, sang ibunda terkena penyakit yang sangat parah. Semua tabib yang telah didatangkan dari sepenjuru negeri tetap saja tak bisa menyembuhkan penyakitnya. Hari demi hari penyakitnya menjadi semakin parah hingga membuat La Ode Pakainke Ke khawatir. Wa Ode Sanggula yang menyadari bahwa tak ada seorang pun tabib yang bisa menyembuhkannya kemudian berpesan pada suaminya untuk selalu menjaga dan merawat buah hatinya dengan baik. Tak lama setelah berpesan, Wa Ode Sanggula menghembuskan napas terakhirnya. Baca juga Kisah Terbentuknya Pulau Nusa dari Kalimantan Tengah dan Ulasannya, Kecerobohan Manusia yang Berakhir Tragis La Ode Pakainke Ke Menikah Lagi Tiga tahun setelah kepergian Wa Ode Sanggula, Putri Satarina tumbuh menjadi anak yang jelita. Bahkan meskipun usianya baru empat tahun, kecantikannya sudah bisa terlihat dengan jelas. Kulitnya terlihat putih bagai salju dan matanya bersinar bagaikan bintang kejora. Bahkan, hidung dan bibirnya tampak sempurna yang semakin menambah keayuan wajahnya. Suatu hari, La Ode Pakainke Ke berpikiran untuk kembali menikah. Karena bagaimanapun juga, ia merasa tak sanggup mengurus buah hatinya sendirian. Apalagi, Wa Kalambe yang pernah menjadi inang pengasuh sang gadis telah berpulang juga ke Rahmatullah tak lama setelah kepergian Wa Ode Sanggula. Belum lagi, La Ode Pakainke Ke harus sering bepergian untuk melakukan usaha perniagaannya. Tak mungkin ia membawa Putri Satarina berlayar bersamanya atau bahkan meninggalkannya sendirian di rumah. Oleh karena itu, setelah berpikir matang-matang, akhirnya La Ode Pakainke Ke memutuskan untuk menikah seorang wanita biasa bernama Wa Muri. Dibandingkan istrinya terdahulu, Wa Muri tidaklah berparas cantik. Namun, hal itu bukanlah sebuah masalah bagi La Ode Pakainke Ke. Karena yang terpenting baginya adalah ada orang yang bisa mengurus dan merawat putrinya. Sebelum mereka resmi menikah, La Ode Pakainke Ke meminta janji Wa Muri untuk menganggap Putri Satarina seperti anak kandungnya sendiri dan memperlakukannya dengan baik. Wa Muri pun menyanggupi permintaan itu. Sehingga La Ode Pakainke Ke akhirnya tak lagi ragu untuk memilihnya. Kebaikan Palsu Wa Muri Setelah menikah, Wa Muri tinggal bersama di rumah suami dan anak tirinya. Awalnya, sesuai janjinya pada La Ode Pakainke Ke, Wa Muri memperlakukan Putri Satarina seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan, La Ode Pakainke Ke sampai merasa beruntung dan bersyukur karena memiliki istri yang penyayang dan adil. La Ode Pakainke Ke tak lagi merasa ragu dan cemas jika harus meninggalkan putrinya untuk berdagang. Ia bisa yakin meninggalkan putrinya di bawah asuhan istri keduanya selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ia sangat yakin putrinya akan selalu bahagia meskipun hanya ditemani ibu tiri yang menyayanginya. Namun, siapa sangka kalau rupanya kebaikan hati dan kasih sayang Wa Muri itu semua hanyalah kebohongan semata. Di balik sikap dan senyum manis yang ia perlihatkan itu, rupanya ada rencana licik yang hanya ia ketahui sendiri. Tak lama setelah pernikahan itu, Wa Muri hamil kemudian melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Katarina. Kehadiran Katarina itu semakin memunculkan sikap buruk Wa Muri, khususnya ketika La Ode Pakainke Ke tengah tidak berada di rumah. Ia sering kali membeda-bedakan kedua anaknya. Bahkan, ia mulai tak lagi mempedulikan Putri Satarina dan hanya mengurus Katarina saja. Baca juga Dongeng Ikan Mas Ajaib dan Pohon Emas Beserta Ulasannya, Pengingat Agar Selalu Tulus Melakukan Segala Hal Perubahan Perilaku Wa Muri Pada Putrinya Seiring dengan berjalannya waktu, perbedaan Putri Satarina dan Katarina semakin terlihat jelas. Tak hanya secara fisik saja, tapi perangai Katarina pun jauh lebih buruk dibandingkan Putri Satarina. Karena terlalu dimanjakan, Katarina tumbuh menjadi gadis yang egois, seenaknya sendiri, dan berkemauan keras. Ia tak pernah mau mengalah dan tak ada yang bisa menentang kemauannya. Sementara Putri Satarina tumbuh menjadi gadis yang sabar dan selalu mengalah. Kecantikan dan kebaikan hati Putri Satarina menjadikannya banyak disukai oleh orang-orang di sekelilingnya, khusunya kaum laki-laki. Dan hal itu menjadikan sang ibu tiri dan adiknya menjadi semakin membenci Putri Satarina. Bahkan, kini gadis berhati bersih itu sampai diperlakukan seperti layaknya pembantu. Setiap hari Putri Satarina diwajibkan untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Kalau ada pekerjaan yang dianggap kurang beres, Wa Muri tak ragu-ragu memukul dan mencacinya. Bahkan, kalau Putri Satarina tak mendengar panggilan sang ibu tiri, Wa Muri juga akan langsung membentak dan menjewer telinga sang gadis tanpa ampun. Hal itu pada akhirnya membuat Putri Satarina sedih. Sering kali, ia hanya bisa menundukkan kepala seraya berkaca-kaca. Apalagi jika Wa Muri sampai mengucapkan kalau Putri Satarina adalah pembawa sial dan membuat ibundanya meninggal dunia. Putri Satarina sampai bertanya-tanya apakah benar ia yang membawa sial bagi keluarganya. Apakah benar ia yang menyebabkan ibundanya meninggal dunia? Karena seingatnya, dahulu inang pengasuhnya menceritakan kalau ibunya meninggal dunia karena terserang penyakit menular yang ganas dan tak ada seorang tabib pun yang bisa menyembuhkan. Sayangnya, saat itu Le Ode Pakainke Ke tengah berlayar jauh. Sehingga hal itu membuat ibu dan adik tirinya bisa melakukan perbuatan semena-mena kepada dirinya. Meskipun begitu, Putri Satarina berusaha untuk tetap berserah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan kekuatan. Pesta Pernikahan Putri Satarina Ketika Putri Satarina berusia 17 tahun, gadis itu bagaikan kembang desa yang selalu memancarkan kecantikan dan keharuman dari dalam dirinya. Banyak pria yang datang dan hendak meminangnya untuk dijadikan istri. Di antara para pemuda itu, hanya ada satu yang menarik perhatian sang putri, yakni pemuda dari negeri seberang. Sang pemuda berparas tampan dan memiliki tutur kata dan perangai yang mengesankan banyak orang. Pemuda bernama La Ode Badawi Garangani itu merupakan anak dari saudagar kaya teman ayahnya. Akhirnya, setelah melalui pembicaraan dari kedua belah pihal, Putri Satarina pun menikah dengan La Ode Badawi Garangani. Pesta pernikahan itu diadakan dengan sangat meriah. Putri Satarina bagaikan Putri Bulan yang dipersunting oleh Pangeran Matahari. Semua orang yang menyaksikan pernikahan itu turut berbahagia dan terharu, kecuali Wa Muri dan Katarina. Mereka berdua justru merasa iri dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Putri Satarina. Berbagai rencana buruk langsung muncul di kepala sang ibu tiri. Ia bertekad untuk menyingkirkan sang putri entah bagaimana caranya. Karena ia menganggap kalau Putri Satarina adalah penghalang kebahagiaan putri kandungnya. Tak berapa lama setelah pesta pernikahan itu berakhir, Putri Satarina mengandung dan sembilan bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Bayi yang mirip dengan ayahnya itu kemudian diberi nama La Ode Pasanifu, di mana Pasanifu memiliki arti pemersatu. Harapannya, buah hati mereka bisa menyatukan hati kedua orang tuanya dan orang-orang di sekitar mereka. Baca juga Kisah tentang Si Kelingking Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Pelajaran untuk Tidak Meremehkan Penampilan Fisik Seseorang Kepergian Putri Satarina Pada suatu hari, La Ode Badawi Garangani harus pergi ke kampung seberang karena mendapat kabar bahwa ayah kandungnya menderita sakit. Karena saat itu La Ode Pasanifu masih terlalu kecil, Putri Satarina tak bisa ikut suaminya dan harus tinggal di rumah untuk mengurus buah hatinya. Ketika La Ode Badawi Garangani berangkat, Wa Muri dan Katarina merasa itu adalah kesempatan yang sempurna untuk melenyapkan Putri Satarina dan menggantikan posisinya. Tanpa menunggu lama Katarina berpura-pura menawarkan diri untuk menjaga La Ode Pasanifu, sementara Wa Muri mengajak Putri Satarina ke sungai. Alasannya mengajak mandi untuk membuang nasib sial setelah tujuh hari kelahiran bayinya. Meskipun awalnya sang putri merasa ragu, tapi karena Wa Muri terus mendesaknya, ia pun terpaksa mengikuti perkataan ibu tirinya itu. Namun, belum sampai ke sungai, mendadak hujan turun dengan derasnya. Hal itu tentunya membuat Putri Satarina semakin merasa ragu, tapi Wa Muri terus memaksanya untuk mempercepat langkahnya. Ketika mereka sampai di tepi sungai, hujan turun semakin deras. Tapi tetap saja Wa Muri memaksa agar Putri Satarina masuk ke dalam air. Tak lama ketika sang putri baru berendam, mendadak banjir besar datang. Meskipun sang putri sudah berusaha berenang secepat mungkin untuk naik ke darat. Namun, dengan sigap sang ibu tiri kembali mendorongnya masuk ke dalm sungai. Naas, sang putri pada akhirnya terbawa arus sungai yang deras. Setelah yakin kalau Putri Satarina tak akan selamat, Wa Muri yang kejam bergegas pulang ke rumah dan menerobos hujan. Sampai di rumah, ia menyuruh Katarina menutup semua jendela kamar sehingga suasana di dalam kamar menjadi gelap gulita. Wa Muri pun menyuruh putri kandungnya untuk menyamar sebagai Putri Satarina dan tak diperbolehkan membuka jendela atau keluar kamar. Bahkan, mereka sampai membohongi La Ode Badawi Garangani dengan berkata bahwa istrinya terkena penyakit mata sehingga tak boleh keluar kamar atau melihat matahari. Tujuh Bidadari Penyelamat Sementara itu, Putri Satarina yang hanyut terbawa banjir rupanya terdampar di pinggir Sungai Lakambolo di daerah Si Keli. Tak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah lubuk berair jernih yang sering digunakan pada bidadari untuk mandi dan bercengkerama bersama. Begitu pula saat itu, seperti biasanya para bidadari mandi, bermain, dan bercanda di dalam air. Mendadak, salah satu bidadari yang mengenakan pakaian berwarna merah muda menemukan sesosok tubuh tergeletak tak jauh dari pohon di tepi sungai. Ia pun langsung memanggil keenam temannya. Melihat kecantikan Putri Satarina, mereka pun merasa kasihan dan memutuskan untuk membawa gadis itu ke kahyangan agar bisa dihidupkan kembali. Namun, rupanya ketika Bunda Ratu, ibunda dari para bidadari mengetahui hal itu, beliau langsung marah. Karena keberadaan seorang manusia bisa mengotori negeri kahyangan, apalagi kalau ternyata mereka tak bisa menyelamatkan nyawa Putri Satarina. Seandainya mereka berhasil menyelamatkan sang putri sekalipun, pada akhirnya Putri Satarina tak akan bisa kemali ke bumi dan harus menjadi penghuni kahyangan selamanya. Namun, para bidadari itu merasa kasihan karena mereka yakin manusia yang diselamatkan itu adalah orang yang baik dan suci dari segala perbuatan buruk. Melihat ketulusan para bidadari yang ingin menyelamatkan manusia itu, Bunda Ratu pun meminta mereka untuk mengumpulkan kembang tujuh rupa, selendang tujung warna, dan air suci yang diisikan ke dalam tujuh kendi kahyangan. Semua benda itu harus disiapkan sebelum matahari terbit. Baca juga Legenda Asal Usul Danau Malawen dan Ulasannya, Sebuah Imbauan untuk Mendengarkan Nasihat Kedua Orang Tua Putri Satarina Menjadi Bidadari Tanpa menunggu lama, para bidadari itu menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan dipimpin Bunda Ratu, mereka pun menutupi tubuh Putri Satarina dengan selendang tujuh warna, dengan selendang yang berwarna putih diletakkan paling atas. Sesudahnya, kembang tujuh rupa ditaburkan di atas tubuh sang putri dari ujung kepala sampai ke kaki. Kemudian Bunda Ratu mengambil tujuh kendi kecil berisi air suci dan memercikkannya di atas tubuh sang putri satu persatu. Tak lupa Bunda Ratu juga terus membacakan mantra, dan mengayunkan tongkatnya di atas Putri Satarina yang kemudian mengeluarkan sinar kuning. Ajaibnya, setelah sinar kuning tersebut masuk ke dalam kepala sang putri yang masih tertutup selendang. Setelah cahaya itu menghilang, Seluruh kain dan kembang tujuh rupa yang menutupi tubuh Putri Satarina pun raib juga. Tak lama kemudian, sang putri terbatuk dan membuka matanya secara perlahan. Betapa bingungnya Putri Satarina yang terbangun dan kelilingi para bidadari dan Bunda Ratu yang cantik jelita. Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan tentang hidupnya, Putri Satarina diizinkan untuk tinggal di kahyangan hingga tubuhnya kembali sembuh. Sayangnya, setelah tubuhnya sembuh sekalipun, ia tetap tak bisa kembali lagi ke bumi. Apalagi, tak lama kemudian Putri Satarina memiliki sepasang sayap seperti halnya bidadari lainnya. Sehingga sejak saat itu, para bidadari mulai sering mengajak Putri Satarina untuk bermain di balik awan hingga malam tiba. Mimpi Tangisan Bayi Pada suatu malam, setelah kembali dari balik awan, Putri Satarina langsung masuk ke dalam biliknya dan berbaring tanpa sempat berganti pakaian. Entah kenapa saat itu ia merasa sangat lelah hingga langsung terlelap begitu saja. Di dalam tidurnya, ia mendengar suara tangis bayi yang tak berhenti-henti. Bahkan, rasanya seolah tangisan itu menjadi semakin nyaring dan memanggil dirinya. Ketika terbangun, Putri Satarina mendapati dirinya berada di sebuah taman yang indah dan penuh bunga tapi terasa asing. Saat tengah menikmati keindahan bunga warna-warni yang ada di sekitarnya, mendadak ia kembali mendengar suara tangisan bayi yang nyaring. Namun, ia tak bisa mencari sumber suara tangisan itu, karena ia merasa seolah suara itu seakan berasal dari seluruh penjuru. Setelah menghentikan langkah kakinya dan berusaha untuk fokus, ia baru menyadari kalau suara itu berasal dari tempat yang sangat jauh. Putri Satarina pun langsung bertanya-tanya kenapa suaranya terdengar begitu dekat. Ia pun kemudian berusaha mengikuti suara hatinya dan melangkah mendekati sumber suara itu. Namun, belum sampai ia mendekati suara itu, Putri Satarina merasakan ada yang memanggil-manggil namanya seraya menepuk pipinya. Ia pun kemudian membuka matanya dan mendapati tujuh orang bidadari telah berada di sampingnya. Ketika ditanya apa yang terjadi padanya, Putri Satarina justru menangis dan berusaha mencari bayi yang tengah menangis. Mendengar jawaban tersebut, tujuh bidadari hanya bisa saling memandang dan menenangkan sang putri karena di kahyangan tidak ada bayi satu pun. Akhirnya, Putri Satarina berhasil menenangkan diri dan berusaha kembali tidur. Baca juga Kisah Abu Nawas tentang Pesan Bagi Para Hakim dan Ulasan Menariknya, Pelajaran untuk Selalu Profesional dalam Bekerja Pulang ke Bumi Namun, sejak peristiwa mimpi tangisan bayi itu, Putri Satarina tak lagi terlihat ceria seperti sebelumnya. Ia bahkan lebih sering merenung sendirian jauh dari para bidadari yang lain. Karena merasa khawatir, para bidadari pun menanyakan apa yang membuat sang putri termenung dan bersedih. Putri Satarina kemudian meminta para bidadari untuk menolongnya kembali ke bumi. Ia menyatakan bahwa belakangan ini ia merasa rindu pada bumi dan ingin kembali meskipun hanya sesaat. Ia juga berjanji bahwa sesudahnya ia akan kembali lagi ke kahyangan. Berkat janji itu, para bidadari pun bersedia membantunya ketika malam bulan purnama tiba. Dan benar saja, beberapa malam kemudian ketika langit malam dihiasi bulan purnama, mereka turun ke bumi dan mandi di Sungai Lakambolo. Di sana, mereka mandi, bermain, dan bercanda riang bersama. Setelah selesai mandi, Putri Satarina meminta izin untuk menjenguk dan menyusui anaknya sebentar. Para bidadari yang tidak mengetahui kalau sang putri memiliki seorang anak pun terkejut. Putri Satarina pun akhirnya menceritakan tentang buah hatinya yang terpaksa harus ia tinggalkan karena pergi ke kahyangan. Karena merasa iba, pada bidadari pun mengizinkan Putri Satarina untuk menjenguk suami dan anaknya. Namun, mereka juga mengingatkan sang putri bahwa ia kini telah menjadi penghuni abadi kahyangan. Oleh karena itu, ia tak bisa berlama-lama berada di bumi dan harus kembali ke kahyangan sebelum matahari terbit. Putri Satarina pun berjanji. Bertemu dan Menyusui Buah Hati Tercinta Namun, siapa sangka ketika akhirnya kembali bertemu dengan buah hatinya, Putri Satarina terlupa akan janjinya pada para bidadari. Ia terlalu asyik menggendong dan menciumi buah hatinya dengan penuh kerinduan. Ia juga menyusui anaknya dan terus mendekapnya seolah tak ingin berpisah lagi. Para bidadari yang menanti di tepi sungai menjelang dini hari pun mulai merasa gelisah. Mereka akhirnya setuju untuk menjemput sang putri agar bisa segera kembali ke kahyangan. Sesampainya mereka di rumah Putri Satarina, sang putri masih saja menyusui buah hatinya. Karena mereka tak berani masuk ke dalam rumah, para bidadari itu pun menyanyi untuk memanggil Putri Satarina. Ketika mendengar nyanyian itu, sang putri tersadar bahwa waktunya sudah nyaris habis. Untungnya mereka masih tepat waktu untuk kembali ke kahyangan sebelum matahari terbit. Para bidadari pun menjanjikan pada sang putri bahwa pada bulan purnama selanjutnya, mereka akan kembali turun ke bumi untuk mandi. Dengan begitu, setelah mandi Putri Satarina bisa kembali menyusui buah hatinya. Betapa bahagianya sang putri ketika mendengar hal itu. Ia pun akhirnya setuju dan tak sabar menanti kedatangan bulan purnama selanjutnya. Di sisi lain, siapa sangka rupanya nyanyian para bidadari itu didengarkan oleh sepasang suami istri tetangga La Ode Badawi Garangani. Ketika matahari sudah tinggi, mereka pun menemui tetangganya itu dan menceritakan tentang suara nyanyian yang mereka dengarkan semalam. Mendengar cerita itu, La Ode Badawi Garangani mulai berniat menyelidikinya. Kembali Berkumpul Bersama Keluarga Pada bulan purnama berikutnya, seperti biasa para bidadari dan Putri Satarina turun ke bumi dan mandi Sungai Lakambolo. Dan seperti sebelumnya, setelah mandi Puri Satarina kembali pulang ke rumahnya untuk menyusui buah hatinya. Sama seperti sebelumnya, para bidadari pun harus bernyanyi untuk mengingatkan sang putri untuk kembali ke kahyangan. Saat itu, La Ode Badawi Garangani yang tengah bersembunyi pun langsung keluar dari persembunyiannya dan memeluk istri yang ia rindukan. Bahkan, ia langsung memeluk istrinya itu dan mematangkan sayap di punggungnya. Betapa terkejutnya Putri Satarina mendapatkan pelukan itu. Meskipun begitu, ia langsung balik memeluk dan menangis di bahu suaminya saling melepas rindu. La Ode Badawi Garangani meminta istrinya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Dan sesuai permintaan, ia pun menceritakan segalanya, termasuk tentang hidupnya selama di kahyangan. Di tengah cerita itu, para bidadari kembali memanggil Putri Satarina dan memintanya kembali ke kahyangan. Sang putri pun kemudian memohon izin untuk bisa kembali ke kahyangan menyusul tujuh bidadari. Namun, karena sayapnya sudah tak ada, ia tak bisa kembali terbang. Putri Satarina pun menjadi bingung mengapa ia tak bisa terbang kembali di kahyangan. Suaminya kemudian menenangkannya dan memintanya untuk tetap tinggal di rumah. Bahkan, ia sampai menyeret Katarina dan Wa Muri keluar, memasukkan mereka ke lubang kayu dan menggulingkan kayu itu ke jurang sangat dalam. Tak ada seorang pun yang bisa menolong mereka dan berakhirlah hidup ibu dan anak itu. Sementara itu, Putri Satarina akhirnya bisa kembali berkumpul dengan suami dan anaknya dengan penuh kasih sayang. Hingga akhir hidupnya, keluarga itu tak pernah lagi merasakan kesusahan atau penderitaan. Konon, anak cucu dari sang putri berkembang semakin banyak dan menjadi penduduk asli Pulau Buton. Baca juga Cerita Rakyat Ular Kepala Tujuh dari Bengkulu & Ulasan Menariknya, Bukti Kerendahan Hati dan Keberanian Bisa Mengalahkan Kekejian Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Sumber Putri Satarina dan Tujuh Bidadari – Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta Setelah membaca cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang berasal dari Buton Utara, Sulawesi Tenggara di atas, kini kamu bisa mengetahui sedikit ulasan seputar unsur intrinsiknya. Di antaranya adalah 1. Tema Inti kisah atau tema dari cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah tentang ketulusan dan kebaikan hati akan memberikan kebaikan dalam hidupmu. Contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh Putri Satarina. Karena kebaikan hatinya, akhirnya ia pun mendapatkan bantuan dari para bidadari untuk kembali dihidupkan. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada beberapa tokoh utama dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini. Di antaranya adalah La Ode Pakainke Ke, Wa Ode Sanggula, Wa Kalambe, Putri Satarina, Wa Muri, Katarina, La Ode Badawi Garangani, Tujuh Bidadari, dan Bunda Ratu. La Ode Pakainke Ke merupakan seorang ayah dan suami yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Ia akan melakukan apa pun dan pergi jauh demi kemakmuran keluarganya. Ia juga sangat menyayangi keluarganya dan rela melakukan apa pun demi istri tercinta dan buah hatinya. Sementara Wa Ode Sanggula adalah wanita rupawan yang baik hatinya dan sangat menyayangi keluarganya. Karena begitu menyayangi suaminya, ia bahkan sampai rela menunggu kepulangan sang suami dari berlayar hingga langit gelap. Wa Kalambe merupakan inang pengasuh La Ode Pakainke Ke dan Wa Ode Sanggula yang tulus menjaga majikannya. Ia juga begitu menyayangi putri kedua majikannya itu dan turut serta mendidik bahkan setelah kematian Wa Ode Sanggula. Sayang, umurnya sendiri juga tak lama. Putri Satarina adalah gadis cantik yang memiliki sifat tulus, baik hati, sabar, dan selalu mengalah pada adiknya. Bahkan setelah mengetahui kalau ia dimanfaatkan oleh adik dan ibu tirinya sekalipun, tetap saja fokus utamanya adalah putranya sendiri, bukan balas dendam. Wa Muri adalah ibu tiri Putri Satarina yang memiliki sifat culas dan licik. Ia sering berpura-pura baik pada semua orang kecuali anak tirinya sendiri. Bahkan, ia sampai berpikiran untuk membunuh anak tirinya agar anak kandungnya bisa menjadi istri La Ode Badawi Garangani. Katarina merupakan putri dari Wa Muri dan La Ode Pakainke Ke yang memiliki sifat dan paras buruk. Karena terlalu dimanjakan, ia menjadi gadis yang iri, egois, seenaknya sendiri, dan berkemauan keras. Bahkan, ia tak ragu memanfaatkan kakaknya sendiri. La Ode Badawi Garangani adalah suami yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi istri juga anaknya. Ia juga langsung bergerak cepat ketika mendapat kabar dari tetangganya tentang istrinya. Demi istrinya itu, ia rela melakukan apa pun, termasuk menyingkirkan ibu mertua dan adik iparnya yang licik sekalipun. Tujuh Bidadari dan Bunda Ratu adalah makhluk kahyangan yang baik hatinya. Mereka menolong dan menyelamatkan Putri Satarina dari akhir hidupnya kemudian mengangkatnya menjadi salah satu bidadari di kahyangan. 3. Latar Latar lokasi yang banyak disebutkan dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah sebuah desa di Sulawesi Tenggara yang banyak dihuni orang suku Wolio, Sungai Lakambolo tempat Putri Satarina dihanyutkan oleh ibu tirinya, dan kahyangan tempat tinggal para bidadari bersama Bunda Ratu. 4. Alur Alur yang digunakan dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah maju atau progresif. Kisahnya diceritakan secara runut dan berkesinambungan satu sama lain. Dimulai dari La Ode Pakainke Ke dan Wa Ode Sanggula yang tengah menanti kelahiran putrinya, Putri Satarina. Sayang, tak lama setelah melahirkan sang putri, Wa Ode Sanggula harus berpulang ke Yang Maha Esa karena penyakit. Karena merasa kasihan pada anaknya yang tak memiliki pengasuh, La Ode Pakainke Ke pun memutuskan untuk menikah dengan Wa Muri. Sayang, Wa Muri justru tak menyayangi Putri Satarina dengan baik. Bahkan, setelah memiliki putri sendiri yang bernama Katarina, Wa Muri justru tak mempedulikan anak tirinya itu lagi. Apalagi setelah Putri Satarina akhirnya menikah dengan La Ode Badawi Garangani yang rupawan, sifat iri hati Wa Muri membuatnya memutuskan untuk mengakali putri tirinya itu. Putri Satarina pun hanyut di sungai Lakambolo akibat keculasan Wa Muri. Untungnya, sang putri ditemukan dan diselamatkan oleh tujuh Bidadari yang baik hati. Namun, Putri Satarina kini harus menjadi bidadari juga dan tak bisa kembali ke bumi. Kerinduannya pada buah hatinya, La Ode Pasanifu, membuat Putri Satarina meminta diizinkan kembali ke bumi agar bisa menyusui putranya. Setelah beberapa kali menyusui putranya, Putri Satarina akhirnya kembali bertemu dengan suaminya dan tak perlu kembali lagi ke kahyangan. 5. Pesan Moral Pesan moral yang bisa didapatkan dari cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang satu ini adalah untuk selalu melakukan kebaikan bahkan meskipun orang lain berbuat jahat padamu sekalipun. Yakinlah kalau alam semesta pasti akan membalas kebaikan yang kamu lakukan dengan tulus itu. Seperti halnya Putri Satarina yang terus bersabar meskipun dijahati oleh ibu tiri dan adiknya sekalipun. Sehingga ketika akhirnya ia dihanyutkan ke sungai dan meninggal dunia, para bidadari pun berusaha untuk menolongnya. Selain unsur intrinsik, cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini juga mengandung unsur ekstrinsik yang bisa melengkapi kisahnya. Di antaranya adalah nilai-nilai sosial, budaya, agama, dan moral yang berlaku di daerah Sulawesi Tenggara. Baca juga Dongeng Burung Tempua dan Burung Puyuh Beserta Ulasannya, Pengingat Bahwa Tiap Orang Punya Selera Berbeda Fakta Menarik tentang Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Sumber Wikimedia Commons Ingin tahu apa lagi yang bisa kamu dapatkan dari artikel cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang satu ini? Di sini kamu juga bisa mendapatkan beberapa fakta menarik seputar kisahnya, yaitu 1. Kebudayaan Suku Wolio Cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini berpusat pada sebuah wilayah di Sulawesi Tenggara yang banyak dihuni oleh Suku Wolio, bertetangga dengan Suku Tolaki. Wilayah tersebut termasuk Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kolaka, Bau-Bau, Pulau Buton, Muna, dan Kabaena. Oleh karena itu, tak ada salahnya jika kamu mengetahui sedikit seputar suku tersebut dan seperti apa penerapannya dalam kisah ini. Salah satunya adalah tentang pernikahan Suku Wolio yang memiliki aturan bahwa pengantin pria harus ikut tinggal di rumah pengantin perempuan. Bisa dilihat di dalam cerita bahwa La Ode Badawi Garangani pun setelah menikah akhirnya tinggal bersama keluarga istrinya. Kemudian juga terkait kewajiban pria dalam mencari nafkah, sementara perempuan hanya bertugas mengurus seluruh keperluan rumah tangga. Sama seperti La Ode Badawi Garangani dan La Ode Pakainke Ke yang rajin bekerja dan membiarkan istri mereka tinggal di rumah. Baca juga Legenda Oheo dari Sulawesi Tenggara dan Beserta Ulasannya, Kisah Pemuda yang Mencuri Selendang Bidadari Khayangan Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Demikianlah ulasan cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara yang telah kami rangkum. Dapatkah kamu mengambil pesan positif dari kisahnya? Semoga saja kamu bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kemudian mengajarkannya pada buah hati tersayang, ya. Kalau masih ingin mencari cerita rakyat lainnya yang tak kalah menariknya, cek saja artikel-artikel lain di PosKata. Di sini kamu bisa mendapatkan Dongeng Kancil dan Kura-Kura, Cerita Rakyat Bawi Kuwu dari Kalimantan Tengah, atau Kisah Datuk Darah Putih dari Jambi. PenulisRizki AdindaRizki Adinda, adalah seorang penulis yang lebih banyak menulis kisah fiksi daripada non fiksi. Seorang lulusan Universitas Diponegoro yang banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menonton film, ngebucin Draco Malfoy, atau mendengarkan Mamamoo. Sebelumnya, perempuan yang mengklaim dirinya sebagai seorang Slytherin garis keras ini pernah bekerja sebagai seorang guru Bahasa Inggris untuk anak berusia dua sampai tujuh tahun dan sangat mencintai dunia anak-anak hingga sekarang. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
cerita rakyat dari sulawesi tenggara