CintaBerakhir Kematian. Cerpen Karangan: Faiqotul Muniroh. Kategori: Cerpen Cinta Sedih. Lolos moderasi pada: 22 June 2016. Pagi ini tidak bersahabat, langit yang biasa terlihat indah dengan sinar mentari indahnya, tiba-tiba enggan membagikan sinarnya pada bumi. Sehingga tampak mendung yang disertai gerimis.
Sayabisa menangis sesenggukan hingga kepikiran selama 3 hari hanya karena cerita yang berakhir sad ending, menjadi emosional saat diajak berbicara atau menyalahkan si penulis yang menurut saya tidak becus karena membuat akhir cerita yang sebegitu menyedihkannya, dan padahal itulah yang di inginkan penulis dan mereka merasa berhasil karena kita terhanyut pada cerita fiksi karangan mereka yang pastinya telah melakukan riset mendalam mengenai apa dan yang tidak perlu dilakukan pada scene
Duacerpen inilah yang paling kuat mewakili tema tentang kematian. Sementara cerpen lain meski tak mengangkat tema tentang maut, namun setting yang disuguhkan tak jauh dari ajal, kematian dan mayat. Cerpen tersebut adalah ?Rumah Makam? (Putu Fajar Arcana), ?Para Ta?ziah? (Ratna Indraswari Ibrahim), ?Panikov? (Laban Abraham), ?Malaikat Kecil?
Sebuahpeti yang terkubur. Kematian. Matikah aku? Mendadak aku merasakan rasa takut dan sesak yang amat sangat di dalam tempat ini, seperti penderita klaustrofobia yang panik kehabisan udara. Anjing! Buka petinya! Kudorong, kutinju, kutendang-tendang sembarangan sampai peti mati terkutuk itu berudarakan debu, tetapi tidak ada yang terjadi. Sia-sia.
Kumpulancerpen dalam buku Cinta Tak Ada Mati ini terdiri dari beberapa tema yang menampilkan peristiwa yang absurd, orang-orang terbuang dan sebab-akibat yang dilakukan setiap karakter yang berusaha melawan kenyataan dan ketidakadilan yang ada. Saat pertama kali membaca kumpulan cerpen Cinta Tak Ada Mati karya Eka Kurniawan, awalnya saya mengira
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Manusia meninggal setiap hari, karena sakit, kecelakaan, dibunuh, bahkan bunuh diri. Tidak ada hal yang membahagiakan jika berbicara tentang kematian. Kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai, meninggalkan kita dalam kesedihan dan penderitaan. Ada banyak kisah menyedihkan tentang mereka yang ditinggal mati. Dan mungkin orang selalu berpikir, bahwa mereka yang ditinggalkan kematian adalah orang-orang yang paling menderita. Tapi, mereka yang meninggalkan kehidupan juga menderita atau bahkan lebih menderita dari mereka yang ditinggalkan. Dan kau tidak akan mengerti maksud ucapanku, sampai kau mendengar kisahku. Semua berawal di bulan Desember tahun lalu. Aku resmi menjadi relawan kematian setelah menjalani enam bulan masa pelatihan. Akhirnya, aku mendapatkan klien pertamaku. Dia adalah arwah seorang gadis berusia 18 tahun bernama Adelia. Dia datang dengan mengenakan piyama abu-abu. Rambut keritingnya terlihat berantakan dan menutupi hampir sebagian wajahnya. Dia begitu pucat. Lingkar matanya hitam dan terlihat sayu. Aku melihat bekas luka di lehernya, sudah membiru. Dari situlah aku tahu kalau dia mati gantung diri. Dia berdiri tepat di hadapanku, seorang gadis yang putus asa, sedih, dan menderita. Aku merasa canggung, tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku berpikir, haruskah aku tanyakan bagaimana kabarnya, apa dia lapar, atau haruskah aku seperti dokter dan menanyakan apa keluhannya. Aku lihat dia sedang bersusah payah merapikan rambut keritingnya. "Apa kamu punya sisir?" Aku, yang sudah siap untuk membuka percakapan, seketika terdiam kembali. "Si...sisir?" terkejut mendengarnya dan merasa sangat norak di hari pertamaku. Aku membuka laci meja dan mencari apakah ada sisir di sana. Aku tidak menemukan sisir. Kemudian aku ingat kalau aku selalu membawa ikat rambut di kantong celanaku. Aku pun memberikan ikat rambutku sebagai pengganti sisir. Setelah dia mengikat rambutnya, aku memintanya bercerita tentang kematiannya dan apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya. 1 2 3 4 5 6 Lihat Cerpen Selengkapnya
Cerpen Karangan Anteng Maya SurawiKategori Cerpen Cinta Sedih Lolos moderasi pada 12 September 2013 Air mata ini seraya aliran sungai yang tak pasti di mana letak ujungnya. Menciptakan segala kegelapan dan kesenduan hati. Bayangannya seolah telah melekat pasti di dalam jiwa dan ragaku. Sampai di bawah batas kesadaranku pun aku tak mampu sama sekali untuk melupakannya. Satria Andika, dengan segala kesederhanaan yang dia miliki aku mencintainya. Sesosok pria berwibawa yang sampai sekarang aku tak tau dia dimana. Seorang pangeran yang dulu dan sampai sekarang, lima tahun berlalu tetap singgah di dalam relung hatiku yang paling dalam. Kenangan akan kebersamaan yang dulu terjalin masih terekam jelas di dalam otakku, seolah meski kepala ini terbentur hingga hancur tak akan menghilangkan sedikitpun cerita tentangnya di dalam hidupku. Ingatan ini melangkah mundur kembali, mengingat peristiwa lima tahun silam, saat aku dan dirinya, Satria Andika. — “Aku mencintaimu Serin” ucapnya seraya memegang kedua pergelangan tanganku. “Dan aku pun juga sangat mencintaimu, Dika” balasku menatap mata teduhnya itu. “Aku akan berjuang, sampai kedua orang tuamu mau menerimaku. Aku akan pertahankan cinta kita. Salahkah aku Serin, jika aku yang hanya seorang pedagang sayur mencintai anak seorang direktur ternama sepertimu?” tanyanya. Aku tau ada luka mendalam di dalam bayangan hitam bola matanya. “Tidak Dika, tidak ada yang salah. Cinta tak memandang status seperti itu. Aku mencintai segala kesederhanaan yang kau punya. Karena hanya kamulah yang mampu mencintaiku setulus dan sepenuh jiwa ragamu” jawabku seolah menenangkan hati dan perasaannya. “Lalu bagaimana dengan seorang perwira yang nantinya akan menjadi calon suamimu itu?” “Jangan biarkan kata itu terucap lagi dari mulutmmu Dika. Itu pilihan orang tuaku. Dan sampai kapanpun hati ini akan tetap selalu memilihmu” “Sudah malam, sebaiknya aku antarkan kau pulang” “Hemm. baiklah “ Aku peluk pinggang Dika, ketika motor yang kita tumpangi melaju kea rah rumah. Tempat dimana Dika selalu merasa dihina oleh Papa. Dika lelaki yang kuat, aku percaya suatu saat nanti dia mampu untuk meluluhkan hati papa. Tiba di depan sebuah rumah mewah, terlihat mobil sedan berwarna hitam gelap terparkir di halaman luas rumah itu. Itu mobil Riko, seorang yang telah dipilih papa untuk menjadi calon suamiku. Sekali lagi itu pilihannya dan hatiku sama sekali tak menggubris lelaki siapapun yang mencoba mendekatiku, karena hati ini telah tertancap kuat di dalam hati Dika, dan tak ada satupun yang mampu merebutnya, meskipun dia adalah seorang perwira hebat. “Serin, mengapa tak pernah kau gubris ucapan papa ha? Jangan kau berhubungan lagi dengan si gembel itu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu”. Sungguh sapaan yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya. “Maaf om. Bukan salah Serin. Saya yang telah memaksanya untuk bertemu malam ini. Sekali lagi maafkan saya” “Dika?” panggilku lirih. Dia hanya melirik sekilas ke arahku. “Ohh memang kau anak yang tak tau malu. Urusi saja seluruh sayur busukmu itu. Jika semua sayur busuk itu telah berubah menjadi emas dan mampu menyaingi kekayaanku, maka aku akan pertimbangkan lagi untuk kau memacari anak tunggalku, Serin Wijaya” ucapnya sinis dan penuh dengan penghinaan. “Om saya janji akan membuat Serin bahagia. Saya janji akan berusaha untuk menjadi seperti apa yang om mau.” “Baiklah aku tunggu segala bukti ucapanmu itu. Tapi jangan berbangga dulu, Karena tetap saja pertunangan Serin dan Riko akan tetap terlaksana.” “Papa, hentikan!” “Kau yang harus hentikan Serin, dan sekarang masuklah.. Masukk!!!” Tanpa sempat berkata lagi tangan perkasa Riko menarik lembut tanganku. Menarikku masuk ke dalam. Meninggalkan Dika dengan segala makian yang terus terlontar dari mulut Papa. Hujan mulai mengguyur deras. Sepertinya langit ikut menjadi saksi, betapa hancur dan rapuhnya hatiku, dan begitu juga dengan hati orang yang paling aku cintai, Satria Andika.. — Lima tahun berlalu sejak kejadian itu. Dan Dika meninggalkanku tanpa jejak sedikitpun. Hingga saat hari pernikahanku dua tahun silam dengan Rikopun, Dika tak kunjung menampakkan sosoknya. Begitu bencikah dia terhadapku sekarang? Begitu mudahkah dia melupakan segala janji dan setianya? Meskipun di sini, saat ini aku telah menjadi istri sah Riko Perdana pun, hati dan perasaan ini tetap seperti lima tahun silam, tetap menjadi milik kekasih yang paling aku cintai. Andika, andaikau tahu, kembalilah. Bawa aku pergi bersamamu, aku tak kuat jika terus seperti ini. Setiap hari tangisan diiringi namamu selalu terurai. — Hari ini aku ingin berjalan-jalan sendiri. Mencari kesegaran hidup yang selama ini telah mulai redup dimakan lembabnya hati dan kalutnya perasaanku. Kuhidupkan mesin mobil, mobil pun melaju ke sebuah pusat perbelanjaan mewah yang rencananya hari ini akan diresmikan pembukaannya, langsung oleh pemilik mall mewah tersebut. Sesampai di sana, sudah banyak pengunjung yang menyaksikan pemotongan tali tanda resmi pembukaan mall itu. Hingga tiba pada satu titik, jantungku seolah berhenti, kakiku seolah rapuh dan tak mampu berdiri, dadaku terasa penat dan sesak. Sosok itu. Sosok yang di segani oleh jejeran pengusaha-pengusaha ternama yang ikut serta dalam jalinan kerjasama pusat perbelanjaan itu, adalah sosok seorang yang selama lima tahun ini aku rindukan kehadirannya. Yah, dia Andika, Satria Andika. Mataku lekat menatap sosoknya. Mungkin karena ikatan cinta yang terlalu kuat atau alasan apa sajalah, Andika mampu merasakan sorotan mataku. Dia balas menatapku. Tampak keterkejutan di dalam bola mata teduh itu. Tak terasa air mata ini mulai terurai, Dika kau ada di hadapanku sekarang, dan memanggil namamu pun aku merasa tak sanggup. Segera aku bergegas meninggalkan tempat tersebut, menuju taman pinggiran kota tempatku selama ini membagi rasa. Aku menangis dan menangis di dalam ketenangan taman itu. Tak kusangka aku dapat melihatnya kembali. Rasa senang, bahagia, haru, bangga, marah, kecewa, bercampur menjadi satu. Kekalutanku belum hilang saat ku rasa sentuhan hangat di pundakku. “Serin Wijaya”, panggilnya lembut Segera ku tolehkan wajah ke temapt sumber bunyi suara berada. “Dika? darimana kau tau aku… “Aku tak akan dengan mudah melupakanmu, sayang” “Dika, mengapa kau tega, mengapa kau tak memberiku kabar sama sekali? Mengapa kau biarkan orang lain memilikiku Dika? Kau pembohong!” teriakku histeris Tanpa banyak berkata, Dika membawa tubuhku ke dalam dekapannya. “Sayang, andai kau tahu. Aku datang di hari pernikahanmu. Aku hanya mampu melihatmu dari jauh tanpa pernah bisa aku langkahkan kaki untuk mendekatimu. Aku malu sayang, aku belum bisa menjadi apa yang seperti papamu mau saat itu. Sejak saat itu aku berfikir, meskipun mungkin kamu telah dimiliki orang lain, jika memang kamu adalah jodohku, maka tanpa ragu aku akan merebutmu kembali, meskipun aku harus korbankan nyawaku untuk itu. Jadi jangan pernah berfikir aku membohongimu Serin. Tidak. Aku tidak seperti itu” katanya tenang. Kata-kata yang dewasa itu cukup mampu meredam segala gejolak kekecewaan ini. Aku sungguh sangat mencintainya. Dan sampai sekarang pun perasaan itu tetap sama adanya. Andika Satria, sosok yang dulu sangat diremehkan oleh papa, kini menjadi seorang pengusaha besar yang namanya sangat diperhitungkan dalam jalinan-jalinan kerjasama nasional maupun internasional. Beasiswa kuliah singkatnya di Amerika mampu membawa dirinya ke dalam kesuksesan seperti sekarang ini. Keadaan ini membuatku merasa sangat dilema. Aku bahagia bisa bertemu belahan jiwaku, namun aku tak kuasa akan kenyataan. Kenyataan yang memaksaku untuk menyadari bahwa aku bukanlah Serin yang dulu, sekarang aku adalah Serin Perdana, istri sah dari suamiku, Riko Perdana. “Sayang, maukah kau hidup bersamaku? Aku akan membawamu ke tempat yang orang lain tidak akan pernah menemukan dan mengusik hubungan kita.” “Dika, tapi bagaimana bisa? Papa pasti akan menyuruh orang suruhannya untuk mencari kita. Dan aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Sudah cukup kamu memendam segala sakit hatimu selama ini” “Tenang Serin, percayalah. Tak akan ada satu orang pun yang mampu mengusik kita. Kamu mau tau di mana tempat indah itu?” “Iya, katakan Dika” Kemudian Dika berjalan bergegas di tengah jalan. Ketika berada persis di tengah keramaian kendaraan bermotor itu Dika berteriak keras… “Aku akan membawamu ke surga kita Serin. Jika kau mencintaiku, kemarilah. Bersamaku…!!!” Bruukkkkkkkk… Truk besar menghempaskan tubuh Dika dengan keras. Aku hanya tercengang melihatnya. Tak kusangka Dika berbuat seperti itu. Sebesar itukah cintanya padaku? Dika aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.. Tak ku sadari ternyata kaki ini membawaku ke tengah jalan, hingga sebuah pick up berkecepatan tinggi menghempaskan tubuh kecilku. Gelap.. dan hanya itu yang mampu aku rasakan.. — Andika Satria, kini berada si sampingku, menggenggam erat tanganku, sekilas menoleh padaku dan melemparkan senyum tampannya itu. Kami berdua melihat dua sosok tubuh bersimbah darah tak bernyawa di tengah keramaian itu. Aku tau kini jiwaku telah terlepas dari ragaku. Tapi aku sungguh merasakan kebahagiaan yang selama lima tahun ini aku nantikan. Tak akan pernah bisa suamiku Riko akan melepaskanku dan membiarkanku hidup bahagia dengan Dika, kekasih hatiku. Jadi mungkin inilah jalan terbaik dari serangkaian hidupku. Papa, Mama, Riko suamiku, maafkan aku. Aku meninggalkan kalian dengan perbuatan keji ini. Tapi pernahkah kalian mengerti bahwa hanya dengan Dika lah aku merasa hidup. Tak perlu aku hidup dengan kekayaan berlimpah. Aku hanya ingin bersamanya, bersama Andika Satria, dan kini aku mendapatkannya. Dan kalian tak lagi mempunyai hak atas diriku. Mungkin di mata orang lain, kematianku adalah hal yang tragis dan menyedihkan, tapi untukku, kematian ini adalah kematian terindah, karena dengan kematian ini, aku dapat memeluk erat kekasih hatiku, separuh dari nyawaku, orang yang paling aku cinta, Andika Satria, dan kini aku tak akan melepasnya lagi.. Cerpen Karangan Anteng Maya Surawi Facebook Umeegg Mhaiya SiiAnashikatosha Cerpen Kematian Terindah merupakan cerita pendek karangan Anteng Maya Surawi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Tentang Mencintai dan Dihianati Oleh Nafisa Suara gemuruh sorak bergembira teman teman sekolahku memenuhi halaman sekolah mendengar pengumuman hasil UN di SMA ku Salah satu SMA di Pekalongan 100% lulus. Begitupun aku dan teman teman Sesal Oleh Fachrur Rozzy Ngiingg, suara berdengung membangunkanku. Perlahan aku membuka mata yang terasa berat, yang pertama kulihat adalah warna putih dari warna langit-langit kamarku. Aku berusaha menggerakan tubuhku, lalu terduduk di pembatas Kini Tugasku Telah Selesai Part 3 Oleh Zee Choco Aku mencoba menekan tombol-tombol yang ada di blackberryku.. aku memasukan email sosialku.. aku mencoba melihat apa kegiatan Rian, dan ternyata semua statusnya membuat aku ingin menangis, aku melihat itu, Dear Diary About Someone I Loved Oleh Agus Purnamasari Sebelumnya aku tidak mempunyai hobi menulis, aku hanya ingin saja. Menulis sejarah tentang diriku sendiri. Hahaha… aku memang bukan siapa-siapa. But, apa salahnya mengoreksi diri sendiri? No is not, Senja Oleh Dewi Nurjanah Kini aku hanya bisa terdiam dalam tidurku dan menyaksikan mimpi yang begitu aneh ini. Suara ayam jago pun membangunkanku, Seolah ia ingin menghentikan mimpiku. “ahh ternyata sudah pagi.” Ucapku “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Cerpen Karangan Irdandi Yuda PermanaKategori Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 9 December 2021 Kala itu, matahari bersembunyi dibalik tebalnya Stratocumulus hingga mengakibatkan siang yang seharusnya panas terik menjadi sedikit mendung. Satu hal yang ada di pikiran pada hari yang melelahkan adalah pulang ke rumah sembari menelentangkan tubuh di atas kasur lembut murahan yang didapat Kodi dari sunday sale toko furnitur di ujung kota. Seraya melewati polusi suara dan udara di sepanjang jalan, Kodi merasakan sesuatu di saku celananya, bersumber dari getaran ponselnya. Kodi terlalu lelah untuk berhenti dan mengambil ponselnya, sehingga ia mengabaikannya dan ingin terus melaju hingga sampai di rumahnya. Namun, ponsel itu terus bergetar dalam perjalanannya, niat awal untuk mengabaikannya menjadi terusik oleh kerisihannya. Akhirnya ia memberhentikan kendaraan dan menjawab panggilan itu. “6 missed calls from Damar” Tertera di layar ponselnya dibarengi notifikasi panggilan dari Damar. Damar adalah rekan kantornya, ia tidak terlalu dekat dengannya akan tetapi mereka sering mengobrol mengenai urusan pekerjaan. “Di, kamu dimana? sudah tujuh kali ditelepon tidak dijawab” sebelum Kodi berkata-kata, Damar sudah mendahului. “Ada apa?” jawab Kodi. “Kuswan Di, Kuswan meninggal!” lanjut Damar. “Hah?” ucap Kodi penuh rasa heran. Butuh waktu beberapa detik untuk akhirnya Kodi dapat mengeluarkan kata-kata. “Yang benar saja! Siang tadi aku dan Kuswan masih mengobrol biasa masa tiba-tiba meninggal” sanggah Kodi, yang masih mengelak kabar tidak mengenakkan itu. “Kodi, sekarang bukan waktu untuk berdebat! lebih baik kamu pergi ke rumah duka! aku dan yang lain akan sampai disana sebentar lagi.” lalu panggilan itu diakhiri Damar. Kodi membeku, ia masih memproses kabar yang mampet di pikiran itu karena masih tidak mau mempercayainya. “Duh, kenapa harus di hari yang melelahkan seperti ini, sial!” ujar Kodi dengan nada kesal. Rumah Kodi berada di sisi barat kota, sementara rumah Kuswan di sisi timur, daerah perbatasan antara tengah kota dan ujung kota, sehingga Kodi harus memutar balik. Di perjalanan menuju rumah Kuswan, pikiran Kodi bercampur aduk tidak karuan. Ia sangat lelah dan sangat ingin pulang, Kodi masih tidak ingin menerima kenyataan bahwa rekan kantornya telah tiada. Ia sangat berharap semuanya hanya halusinasi akibat rasa lelahnya saja. Tetapi Kodi sudah cukup dewasa untuk menyadari bahwa dunia tidak selalu sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Pikirannya terus berputar-putar, sehingga perjalanan menuju rumah Kuswan seolah terasa sangat jauh. Ia sungguh kebingungan mengenai apa yang akan dilakukannya saat telah sampai disana, akibat rasa kesal, lelah beserta kabar yang datang tiba-tiba membuat pikirannya kebingungan dan seolah kesedihan adalah sesuatu yang asing untuk dirasakan dalam kondisi seperti ini. Sementara itu, kendaraan roda duanya terus melaju hingga akhirnya sampai di depan pekarangan rumah teman karibnya yang meninggal itu. Saat tiba, Kodi tidak merasa sedih, juga tidak merasakan duka sama sekali. Mungkin akan banyak yang berpendapat bahwa Kodi merupakan seorang psikopat yang tidak merasakan emosi. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Bagi Kodi, ia sedang diliputi rasa bingung, batinnya sedang mengalami getaran dan terguncang sehingga ia tidak dapat bersikap normal. Perlahan, rasa takut dan gugup timbul dalam batin Kodi. Takut akan reaksi dan pandangan orang akan dirinya yang tidak menampakkan kesedihan dan duka. Kodi kini sudah didepan pagar rumah temannya, mematung tidak bergerak. Ia berniat pulang dan datang lagi setelah temannya dikuburkan, tetapi urung niatnya itu karena sosok dibelakangnya tiba-tiba menepuk pundaknya seraya menyapanya. “Kodi, ayo masuk!” ujar sosok itu yang ternyata adalah Damar. “Tunggu, masuknya bareng saja.” Ucap Kodi dengan nada penuh keraguan. “Loh, kenapa? Bukannya kamu sering kesini? kok takut begitu?” ucap Damar dengan penuh keraguan pula. “Ya, sekalian saja. Kukira kamu kesini bareng orang-orang kantor, eh malah datang sendiri.” Ucap Kodi yang bersyukur di saat batinnya tengah gugup, masih sanggup memikirkan alasan yang dikiranya logis agar temannya tidak curiga. “Rencananya begitu. Tapi waktu di jalan ban mobil Rio bocor. Ali dan Warto ikut bantu bawa ke bengkel, lalu aku disuruh datang kesini duluan.” Lantas, Damar dan Kodi masuk ke rumah sahabatnya yang telah tiada itu. Mereka sama-sama sahabat karib Kuswan, sama-sama bekerja di satu kantor. Satu-satunya perbedaan keduanya adalah pada wajah Damar terpancar kedukaan, sementara Kodi tidak. Hal itu membuat Kodi tambah terguncang sembari melangkah masuk rumah duka. Suasana rumah itu begitu gelap dengan sinar-sinar putih yang menyilaukan dari jendela. Semuanya berduka. Istrinya, anak-anaknya, keluarganya hingga Damar yang mulai meneteskan air mata dan bersendu. Teringat akan temannya yang banyak membantu itu. isak tangis, suara-suara penuh pilu dan penyesalan. Gerak gerik tangan mengusap air mata berkali-kali, layaknya penyeka kaca yang membersihkan kaca mobil agar pandangan tetap jelas. Kodi mendengarkan dalam-dalam dan mencoba menghayati suara-suara dan isak tangis kedukaan itu, kendati demikian tetap saja rasa duka belum menampakkan diri di dalam batinnya. Rasa cemas dan takut yang menyelimuti juga tidak membantu sama-sekali untuk mengundang rasa sedih akan kehilangan. Adik Kuswan, Watiastri tidak dapat menahan rasa pilunya atas kepergian kakaknya itu. Pipinya basah oleh air mata, matanya sembab akibat tak hentinya menangis. Anak-anak Kuswan, dan kerabatnya yang lain juga tak berbeda kondisinya saat itu. Namun yang membuat Kodi benar-benar terenyuh adalah saat melihat istri Kuswan, Elmira. Wajahnya tak luput dari pancaran rasa duka, layaknya anak-anak, adik dan kerabat Kuswan yang lain. Akan tetapi, Kodi terfokus pada Elmira yang memiliki pribadi tegar, keras dan sangat berpendirian, dimana sebelumnya pernah merasakan kepedihan yang pahit saat mereka mendapati bahwa bayi di dalam kandungannya gugur saat lahir, tetap tegar dan tidak terbenam dalam arus kesedihan mendalam. Kini, dengan mata yang semakin melebam, seolah-olah air mata yang menetes tidak ada habisnya. Beserta isak tangis yang semakin lama terdengar semakin semu dan sendat. Tubuhnya tampak lemah, tetapi tidak pingsan. Jantungnya serasa memompa arus kesedihan yang deras mengalir alih-alih darah agar tubuhnya tetap bertahan. Itu merupakan pemicu awal yang membangkitkan sedikit rasa duka pada diri Kodi, Jika orang yang tegar seperti itu dapat tenggelam dalam rasa duka, kenapa ia tidak bisa? Pertanyaan itu muncul dipikirannya, dan terus menusuk batinnya yang bingung itu. Hal itu menumbuhkan rasa sedih pada dirinya. Kenangan tentang temannya itu lalu mulai memenuhi pikiran Kodi, layaknya perahu yang terbawa arus deras. Air mata-nya pun mulai menetes deras, membasahi pipinya yang sebelumnya kering, akibat debu-debu lalu lintas di perjalanan. Kenangan-kenangan itu tak hanya melewati pikirannya, namun juga bersemayam sesaat, seolah-olah ia merasakan kembali masa-masa lampau tersebut bersama temannya itu. Kini, ia sudah berada di depan jenazah Kuswan. Mata Kodi terpaku pada kakinya, pandangannya serasa terkunci dan tidak dapat menoleh bebas. Kodi sengaja, ia tidak kuat untuk melihat wajah temannya itu untuk terakhir kali, walaupun di lubuk hatinya yang terdalam berkata lain. Ia bahkan tidak tahu harus merasakan bahagia karena akhirnya dapat merasakan duka atau merasa sedih karena temannya sudah berkurang satu, atau dengan kata lain satu-satunya teman dekatnya sudah pergi meninggalkannya. Perasaan ambivalen itu juga lah yang membuatnya tersadar bahwa kehidupan di dunia ini sungguh sangat singkat, untuknya yang sedari dulu menyia-nyiakan hidup dengan ketidakpedulian. Suara mesin motor yang khas itu membangunkan Lily yang sebelumnya hanya setengah tidur. Di malam yang kelabu, tidak ada rasa takut dan cemas akan suara kedatangan di depan rumahnya kala itu, karena suara motor itu sangat familiar baginya. Suara mesin motor itu pastilah bersumber dari milik suaminya yang sudah dikendarai selama setengah dekade. Kala itu suaminya tidak mengetuk pintu, Lily merasa heran namun dengan gesit ia bukakan jalan masuk rumah itu untuk suaminya. Kodi hanya terdiam sebentar saat pintu akhirnya dibuka, lalu tiba-tiba memeluk istrinya. Pelukan itu perlahan berangsur menjadi erat, rasa bingung semakin mengepul pada pikiran Lily, kenapa gerangan suaminya tiba-tiba memberi pelukan di malam hari? Namun ia memilih untuk tetap diam dan membalas pelukan itu dengan kehangatan. Tak terasa sudah berapa menit mereka berpelukan, sesaat sebelum Lily membuka mulut, Kodi melepaskan pelukan. Kehangatannya kini telah hilang, hanya ada rasa kelam. Kodi lalu masuk rumah dan berangkat ke meja kerjanya tanpa sepatah kata. Pintu kemudian ditutup Lily, kebisuan Kodi seperti menular kepada dirinya, ia juga merasa tidak ingin memulai percakapan. Lily melihat Kodi di meja kerjanya, meja itu terdapat di ujung ruangan kamar tidur mereka. Biasa digunakan Kodi untuk menyelesaikan sisa pekerjaan atau untuk sekedar membaca dan melihat langit. Ia mencoba melepaskan kebisuan dengan menyapa sang suami namun tidak ada jawaban. Lalu mendekati dan menepuk pundaknya, namun tetap tak ada jawaban. Jantungnya hampir berhenti berdetak, namun ia tetap mencoba tenang. Saat menyalakan lampu kamar akhirnya ia sadar bahwa suaminya itu tertidur. Saat itu ia berpikir bahwa Kodi bekerja terlalu keras, sehingga tiba di rumah dalam keadaan sangat lelah. Lily menjadi bimbang kala itu, tega kah ia membangunkan suaminya untuk berpindah tidur ke tempat tidurnya atau tega kah ia mengganggu istirahat sang suami yang sungguh kelelahan. Sembari memutuskan, Lily membereskan meja suaminya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan tidur. Meja itu tidak terlalu berantakan, hanya terdapat secarik kertas dan sebuah bolpoin berwarna tosca yang sering digunakan suaminya. Awalnya, ia tidak merasa ada sesuatu yang aneh. Kiranya secarik kertas itu berisi hal-hal penting yang harus dikerjakan Kodi, karena suaminya memiliki kebiasaan mencatat hal-hal penting setiap harinya sebagai pengingat. Namun, kertas itu adalah kertas buku biasa, yang bentuknya tidak karuan pertanda bahwa telah dirobek sembarang. Kodi biasanya menggunakan kertas khusus untuk menuliskan hal-hal penting, dan kertasnya selalu rapi. Perasaan tidak tenang kembali menyelimuti Lily, malam itu sudah tiga kali ia diestrum kecemasan. Dengan perlahan dan penuh penasaran ia mengambil kertas itu dan mencoba mengamatinya. Secarik kertas itu berisi tulisan tangan dengan noda-noda basah bekas air mata. Setelah membaca dengan perlahan dan fokus, ia akhirnya dapat menghembuskan nafas dengan lega, isinya memberi jawaban keanehan tingkahnya pulang kemarin. Ia lalu membangunkan suaminya dan mengantarkannya ke kamar tidur, setelah itu ia duduk termenung di meja kerja suaminya. Bersandar dengan menggenggam secarik kertas itu, lalu membaca dengan pelan dan samar-samar, sembari menangis. Ia tidak mengetahui apakah itu air mata kesedihan, ataukah air mata haru. Namun yang ia ketahui, air mata itu mengandung empati, layaknya makna dari tulisan pada kertas itu, sebuah puisi yang dibuat suaminya, entah untuk dirinya sendiri atau untuk keluarganya atau untuk siapa lagi. Namun yang ia ketahui, kesedihan itu dapat menular. Namanya adalah “empati”. Tentang Kematian Betapa anehnya, sekian detik lalu tidak ada rasa apapun, Saat bertelepon pun tak ada perasaan menggoyahkan sedikitpun. Tapi kenapa? Saat didepan mata, dikelilingi isak tangis. Hanya butuh beberapa detik untuk terjun dalam arus tangisan dan kepedihan. Air mata mengalir terus menerus, bendungan pun dirasa tidak cukup kuat Menahan derasnya aliran emosi. Sungguh, semua hal itu sebenarnya manusiawi. Namun, bagaimana bisa? Bagaimana bisa hanya butuh sekian detik, tanpa rasa apapun tiba-tiba terbawa Isak tangis? Apakah ini yang namanya empati? Cerpen Karangan Irdandi Yuda Permana Blog / Facebook Irdandi Yuda Permana Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpen Tentang Kematian merupakan cerita pendek karangan Irdandi Yuda Permana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Balik ke Ibu Oleh Halub Seisi rumah tersusun rapi, buku-buku terlihat bertandang pada tempatnya, lampu belajar pun tak menyinari meja, dia padam untuk sementara waktu, akan ada masanya dia akan menyala dan bekerja. Kursi-kursi Toga di Pusaramu Oleh Jum'at Tuniah Adzan subuh membangunkanku dari tidurku. Bergegas aku mengambil air wudhu dan menyegerakan salat subuh. Biasanya aku sudah terbangun sebelumnya. Tapi kali ini aku bangun sedikit lebih terlambat dari biasanya. Aku Menyayangimu Kak Part 2 Oleh Siti Mariyam Kak Nico basah kuyup pulang sekolah hari ini karena kehujanan. Andai ia tidak bermain lebih dulu bersama teman-temannya pasti ia bisa pulang tanpa kehujanan. Ia melepar dengan asal sepatu Dua Sahabat Part 2 Oleh Bambang Winarto “Pak Polisi tolong borgolnya dilepas sebentar saja, saya ingin memeluknya.” Pak Polisi membuka borgolnya setelah memperoleh isyarat dari Pak Kapolsek. Mereka bertatapan mata, dan secara bersamaan mereka maju berpelukan. Sebuah Nama, Sebuah Misteri Oleh Gatut Putra Hari ini memang bukan hari yang indah untukku. Aku harus merelakan kepergian sahabat baruku, Cheryl Putri. Hujan air mataku mengiringi kepergiannya. Aku tidak kuat untuk mendampinginya pergi ke sana. “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Di masa pandemik seperti sekarang ini membaca menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Baik itu membaca buku fiksi maupun cerita yang bahagia kerap kali dibayangkan oleh para pembaca buku fiksi yang sudah baper di setiap adegan dalam bagaimana jika kebaperan di awal yang kita baca berakhir menyedihkan? Saya sebagai pembaca nonfiksi, jika mendapatkan cerita yang berakhir sad ending, pasti akan uring - uringan, kepikiran dan tidak menyangka cerita yang saya pilih dan baca akan berakhir seperti itu. Sad ending, bad ending, ex sad ending dan ex bad ending adalah sekumpulan cerita yang berakhir tidak sesuai ekspetasi kita pada saat membaca di awal, sedih sebelumnya saya sudah menyiapkan mental, tapi selalu saja cerita yang berakhir sad ending, akan sangat menyakitkan bagi segelintir orang termasuk bisa menangis sesenggukan hingga kepikiran selama 3 hari hanya karena cerita yang berakhir sad ending, menjadi emosional saat diajak berbicara atau menyalahkan si penulis yang menurut saya tidak becus karena membuat akhir cerita yang sebegitu menyedihkannya, dan padahal itulah yang di inginkan penulis dan mereka merasa berhasil karena kita terhanyut pada cerita fiksi karangan mereka yang pastinya telah melakukan riset mendalam mengenai apa dan yang tidak perlu dilakukan pada scene - scene jika sudah berakhir gantung, rasanya saya ingin menabrakkan ingatan saya agar segera lupa dengan cerita tersebut. Tapi apapun jenis endingnya pasti memiliki kelebihan serta kekurangan bagi para pembacanya masing - masing, agar cerita tersebut tidak klise dan mengejutkan apalagi dikejutkan itu seru! Lihat Hobby Selengkapnya
Selain alur yang menarik dan karakter yang kuat, ending atau penutup juga berperan penting dalam sebuah cerita—baik itu cerpen, drama, maupun novel. Ending merupakan salah satu penentu apakah cerita yang kamu tulis akan diingat lama dalam benak pembaca, atau sebaliknya—dilupakan begitu saja. Ada banyak cara untuk menutup ceritamu, mulai dari membuat akhir yang bahagia, tragis, atau yang membingungkan. Nah, berikut ini 7 jenis ending dalam cerita yang perlu kamu ketahui. Selanjutnya tinggal menentukan mana yang cocok untuk digunakan. 1. Surprise Ending Surprise ending atau yang juga dikenal dengan plot twist merupakan penutup di mana pembaca dibuat terkejut oleh akhir dari sebuah cerita. Ending ini akan mematahkan gambaran yang telah dibangun pembaca dengan sesuatu yang tak terduga. Penulis biasanya membuat alur yang bertolak belakang dengan ending, sehingga sulit ditebak. Ending jenis ini dikatakan berhasil apabila pembaca merasa terkejut, tak percaya, dan tertipu. 2. Happy Ending Happy Ending merupakan jenis penutup yang paling banyak digunakan. Dalam ending ini, harapan dan keinginan tokoh tercapai. Meski banyak dipakai, tidak semua cerita dengan happy ending mampu membuat pembaca terkesan, tak jarang cerita ini justru yang paling mudah ditebak. Oleh sebab itu, penulis harus membangun kekuatan lain, misalnya konflik yang pelik, alur yang rumit, atau karakter yang kuat. Sehingga pembaca dapat mengambil pelajaran bahwa akhir bahagia yang dirasakan sang tokoh merupakan buah dari perjuangan tak kenal henti. 3. Sad Ending Kebalikan dari happy ending, sad ending biasanya membuat pembaca merasa sedih. Umumnya cerita berakhir dengan hal-hal yang tidak disukai, misalnya kematian, kegagalan, atau kehilangan. Tidak banyak cerita yang menggunakan ending jenis ini karena memang tidak banyak pembaca yang menyukainya. Namun, jika dieksekusi dengan baik, cerita dengan sad ending justru bisa mendatangkan kesan tersendiri bagi pembaca. 4. Question Ending Dalam question ending, cerita berakhir dengan menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Biasanya jenis ending ini terdapat dalam cerita bersambung atau novel berseri. Tujuannya untuk membangkitkan rasa penasaran sehingga pembaca menantikan kisah selanjutnya. 5. Circular Ending Circular ending terdapat dalam cerita yang memiliki pola melingkar. Dalam ending ini, akhir dari sebuah cerita adalah awal cerita itu sendiri. Memasuki bagian penutup, pembaca akan diajak menelusuri ulang perjalanan tokoh, mulai dari pengenalan, munculnya konflik, klimaks, hingga menemukan resolusi. Jadi, ending akan berkaitan dengan awal cerita. 6. Open Ending Open ending adalah jenis penutup cerita yang tidak selesai alias menggantung. Biasanya pembaca merasa seolah-olah cerita terhenti begitu saja. Open ending akan menyisakan banyak hal yang mengganjal di benak pembaca. Tujuan dari ending jenis ini ialah agar pembaca menciptakan akhir kisahnya sendiri sesuai keinginan dan imajinasi masing-masing. 7. Close Ending Yang terakhir adalah close ending. Seperti namanya, ending ini tidak menyisakan pertanyaan apa pun alias tertutup. Penulis menjelaskan semua sebab-akibat dalam ceritanya, sehingga tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Dalam close ending, cerita benar-benar selesai. Tidak ada alternatif lain. Pembaca pun akan merasa lega karena telah mengetahui semuanya. Itulah 7 jenis ending yang dapat kamu gunakan untuk mengakhiri karanganmu. Tidak sedikit pula penulis yang menggabungkan beberapa jenis penutup cerita agar makin memikat. Jadi, ending mana yang akan kamu tulis?
cerpen sad ending kematian